Sabtu, 10 Mei 2008

7 Langkah Dharma menjadi kaya


~PENDAHULUAN~
Suatu hari di bulan Desember 2005, penulis didatangi oleh seorang wanita berumur ± 45 tahun, sambil menangis wanita tersebut mengadu bahwa dia sudah hampir bunuh diri karena putus asa akan hidup ini, dihimpit oleh kemiskinan dan hubungan dengan mertuanya yang sangat buruk, membuat mereka sekeluarga serasa berada di penderitaan neraka.

Di suatu vihara, wanita tersebut menemukan buku yang penulis terbitkan yaitu mencapai kekayaan duniawi, setelah membaca buku tersebut, niatnya untuk bunuh diri langsung dibatalkan, dalam hatinya timbullah harapan untuk merubah hidup ini sesuai dengan petunjuk di buku tersebut.

Beliau dengan sepenuh hati ingin bertemu penulis, namun tidak tahu bagaimana caranya. Berdasarkan salah satu petunjuk di buku, beliau pun berkunjung ke Vihara Satya Dharma Pluit untuk memohon bimbingan Bodhisattva Satya Dharma (Kwan Kong). Dalam Ciam Si tertulis : “Akan Bertemu Dewa Penolong (Kui Zin).” Atas bimbingan Bodhisattva Satya Dharma, akhirnya beliau dapat bertemu dengan penulis.
Mendengar kisah beliau, penulis sangat terharu, ternyata begitu dalam dan banyak penderitaan makhluk ini. Syukur juga kami panjatkan kepada Thian, para Buddha, Bodhisattva Mahasattva dan para Dewata kiranya buku penulis dapat membuka mata batin pembaca, walaupun hanya 1 orang yang sadar sesudah membaca karya penulis, maksud dan tujuan menyebarkan Dharma telah membawa hasil.

Berdasarkan pengalaman ini, penulis menyadari bahwa masih banyak masyarakat yang butuh bacaan dan dorongan semangat bagaimana untuk memperoleh kekayaan. Buku penulis terdahulu berjudul “Mencapai Kekayaan Duniawi” merupakan buku yang paling diminati masyarakat awam. Sudah berulang kali dicetak ulang bahkan telahbanyak umat yang dengan ketulusan hati mencetak sendiri demi kebahagiaan semua mahkluk. Mungkin sampai saat ini sudah lebih dari 60.000 eksemplar buku yang sudah beredar.
Berdasarkan pengalaman di atas, penulis kembali dalam kesempatan karma yang baik ini akan menjelaskan tentang langkah-langkah sesuai dharma untuk menjadi benar-benar kaya. Penulis akan memberikan resep yang pamungkas, yang telah terbukti khasiatnya untuk benar-benar menjadi kaya, karena resep ini telah penulis terapkan dalam kehidupan penulis sendiri dan hasilnya sungguh luar biasa.
Contoh nyatanya adalah sewaktu penulis mulai belajar Dharma, penulis mempunyai altar puja bakti Bodhisattva Kwan Kong ukuran 60 cm x 40 cm dan di tempel secara sederhana di dinding rumah, sekarang luas ruang tempat puja bhakti penulis 10 m x 8 m (80 m2), Terdapat rupang Tiratana (Hyang Buddha Sakyamuni, Hyang Amitabha Buddha dan Hyang Bhajsajjaguru Buddha ), masing-masing berukuran tinggi 2 meter. Sungguh mukjizat Dharma. Setiap hari ruang puja bhakti penulis penuh dengan keharuman Dharma.
Untuk umat awam, belajar Dharma harus terlebih dahulu ditunjangan dengan kehidupan materi yang cukup, maksud cukup di sini adalah memperoleh sandang pangan dan pendidikan anak sehari-hari, tidak pusing lagi memikirkan hari ini atau besok bagaimana mau makan (bukan mau makan apa), sudah punya rumah tinggal walau sementara yang dapat menghindarkan diri dari panas dan hujan, sekolah anak-anak sudah dapat berjalan dengan baik.
Suatu kisah di zaman Hyang Buddha dapat memberikan kita gambaran yang sesuai tentang hal tersebut. Seorang siswa Hyang Buddha datang dari jauh mengunjungi Hyang Buddha, siswa ini tampak lelah, letih dan lesu. Melihat kondisi ini, Hyang Buddha memerintahkan para Bikkhu untuk memberikan makanan dan istirahat yang baik kepada siswa tersebut. Setelah siswa tersebut segar kembali, barulah Hyang Buddha mengajarkan Dharma kepada siswa tersebut. Dari peristiwa tersebut dapat disimpulkan bahwa orang yang dalam kondisi serba kekurangan, letih, kelaparan, sulit untuk menerima Dharma.
Dharma hanya dapat berkembang dan diterima di tempat yang tidak terlalu banyak kesenangan dan tempat yang tidak terlalu banyak penderitaan. Karenanya di alam surga, yang penuh kesenangan; di alam ashura, peta, alam binatang dan alam neraka yang penuh penderitaan, bukanlah tempat yang sesuai untuk belajar Dharma. Di alam manusia-lah, Dharma mudah dipelajari dan berkembang, namun mereka yang terlalu kaya dan terlalu miskin juga sulit belajar Dharma, karenanya mereka yang hidup berkecukupan dan tiada kekurangan, bersyukurlah dan segeralah melangkah dalam Dharma.
Dalam judul buku ini, penulis sengaja menuliskan judul besarbesar “7 Langkah Dharma Menjadi Benar-benar Kaya“. Penulis menekankan kata benar-benar maksudnya apa? Kaya itu dalam arti kaya yang lengkap seusai kebenaran, moral dan etika. Kaya secara material dan kaya secara spiritual. Sebagian besar penulis buku marketing, buku kepemimpinan, buku psikologi hidup, hanya menekankan pencapaian kesuksesan hidup secara materi. Dalam buku inilah pembaca akan diajak menyelami lautan Dharma yang akan membawa semua yang berjodoh dan yang mau melangkah untuk menjadi benar-benar kaya. Kaya secara materi dan kaya secara spiritual.
Apabila pembaca hanya ingin kaya secara materi saja, Penulis sarankan carilah buku lain. Apabila pembaca membeli buku-buku tentang bagaimana supaya menjadi sukses dan kaya di toko buku, maka yang kaya terlebih dahulu adalah penulisnya. Buku ini walaupun diterbitkan secara cuma-cuma, janganlah dianggap remeh, karena justru di sinilah letak rahasianya. Penulis dan penerbit telah benar-benar berhasil menerapkan langkah-langkah tersebut dalam hidupnya, mereka telah menjadi kaya dalam Dharma. Sekaranggiliran para pembaca untuk meraih keberhasilan tersebut. Jangan di tunda lagi, melangkahlah, pasti akan sampai ke tujuan.

Laksanakanlah dengan sungguh-sungguh 7 langkah ini maka keberhasilan ada di tangan Anda. Angka 7 adalah angka mujur dan sakral dalam Buddha Dharma, sewaktu pangeran Siddharta lahir, beliau berjalan 7 langkah dan akhirnya beliau menjadi Buddha.

~LANGKAH 1~

PUJA BHAKTI
Banyak orang berpendapat Puja Bhakti adalah perbuatan yang tahyul, sia-sia, membuang waktu, sudah ketinggalan zaman, dan lain-lain. Penulis mempunyai pengalaman yang sangat unik dalam belajar Dharma, karena penulis memulainya dari puja bhakti di rumah, sampai saat ini pun penulis melakukan puja bhakti pagi dan malam dengan sangat khusuk dan penuh sujud. Dengan melakukan puja bhakti di rumah secara rutin dan teratur, maka kita melatih beberapa hal yang sangat utama yang akan menjadi landasan kita yaitu :

a. Disiplin diri.
Pada dasarnya manusia adalah mahkluk yang malas, mereka mempunyai akal budi tetapi cenderung memanjakan diri, tidak suka terikat kepada peraturan dan ingin menang sendiri. Untuk benarbenar menjadi kaya, kita harus dapat melatih disiplin diri, yaitu disiplin menghargai waktu, disiplin untuk bekerja keras, disiplin untuk bangun, dan tidur secara teratur, disiplin dalam pengabdian. Semua disiplin tersebut dapat kita latih melalui puja bhakti yang teratur, setiap hari tanpa pernah berhenti. Dengan puja bhakti secara otomatis. Kita melatih berbagai disiplin diri. Apabila telah di lakukan secara rutin, maka secara otomatis alam bawah sadar kita sudah terprogram, jam 06.00 pagi bangun, lalu mandi, makan, meditasi , puja bhakti, demikian juga malam jam 20.30 secara rutin puja bhakti lagi. Baca mantra dan sutra dan mempersembahkan dupa untuk pengagungan. Disiplin diri ini
sangat diperlukan dalam dunia usaha atau pekerjaan. Secara langsung kebiasaan yang kita latih mempengaruhi pekerjaan dan cara berpikir kita. Dengan demikian dalam melakukan segala sesuatukita telah selangkah lebih mau dari orang lain.

b. Titik awal menuju Gerbang Dharma
Apabila setiap hari kita bersungguh-sungguh dengan puja Bhakti ,maka kita mengasah Inquisitive Mind (pikiran ingin tahu) kita, yaitu kita mulai ingin mengetahui, kenapa ada yang lahir cacat ? Kenapa ada orang yang gampang sukses, ada yang selalu dililit kemiskinan ? Apa arti hidup ini ? Ke mana kita setelah mati ? Apakah ada kelahiran kembali ? Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat bagus sebagai titik awal kita untuk terus mendalami Dharma.
c. Bertemu dengan orang-orang se-Dharma dan sehati.
Sungguh merupakan pengalaman penulis sendiri, di mana setelah mulai melakukan puja bhakti, maka penulis sering bertemudengan orang-orang se-Dharma dan sehati, sehingga bisa berbagi pengalaman bersama. Aura tubuh atau energi yang dipancarkan oleh orang yang mulai terbuka hatinya untuk belajar kebenaran akan mencari aura atau energi yang sama yang berada di alam sekitar kita. Karenanya tidak heran apabila kita bisa bertemu dengan orang - orang yang sejalan. Demikian juga sebaliknya, orang-orang yang berpikiran jahat sering bertemu juga dengan orang-orang yang sehati. Dengan bergaul bersama-sama orang-orang yang baik dan sejalan, maka pintu untuk mencapai kekayaan duniawi sudah terbuka. Teman-teman se-Dharma sering kali dapat menjadi tuan penolong (Kui Zin), apabila kita mengalami hambatan atau kesulitan.. Penulis bersyukur, hasil dari latihan, puja bhakti, membuktikan penulis mempunyai sahabat-sahabat, staff, karyawan yang sangat membantu
.
d. Membina hubungan batin dengan Junjungan kita.
Ada kisah dimana seorang ibu mempunyai 2 orang putra. Seorang putra bernama A sering datang menjenguk ibunya, menanyakan kondisi Ibu dan memperhatikan kebutuhan Ibunya. Seorang putra lagi bernama B, tinggal di luar kota, sesekali baru berkunjung cuma pada hari raya Imlek. Sekarang kedua anak ini membutuhkan pertolongan ibunya,
siapakah di antara kedua anak ibu yang akan di bantu terlebih dahulu oleh Sang Ibu?
Contoh di atas berlaku juga dengan kita. Apabila setiap hari kita berkomunikasi dengan junjungan kita, menunjukkan bhakti dan sujud kita, pada saat kita sedang kesulitan, tanpa diminta pun junjungan kita akan membantu memberikan jalan keluar bagi kita, ini adalah Hukum Alam.
Banyak orang salah pengertian mengenai puja bhakti,mereka sering memohon kepada junjungan 1001 macam permohonan, sehingga menimbulkan ketergantungan atau tahyul, seolah-olah junjungan A lebih hebat atau tokcer daripada junjungan B, atau kalau 1001 macam permohonan tidak terkabul, timbullah putus asa atau kemalasan untuk puja bhakti. Tanpa perlu minta, tanpa perlu menyogok, laksanakanlah puja bhakti dengan tulus dan sujud, semuanya akan terbentuk dan terjalinsecara alamiah, ini adalah hukum alam. Seorang Guru Master Mahayana, Tripitakacarya Hsuan Hua, dalam bukunya berjudul “Penjelasan umum mengenai Sabda Hyang Buddha tentang Amitabha.” Sutra menjelaskan sebagai berikut :
katakan “Namo Amitabha Buddha”, maka timbullah pikiran Buddha dalam pikiran Anda, apabila Anda sadar akan Hyang Buddha, maka Hyang Buddha akan memperhatikan Anda, hal ini seperti komunikasi antara radio atau radar. Anda mengucapkan di sini (mantra, sutra, nama buddha, red!), dan ucapan itu diterima di sana. Namun jika Anda tidak mengucapkannya tidak akan ada yang diterima, maka itu Anda harus tetap memegang dan menyebut nama itu.
e. Mengingatkan kita akan Sila dan Karma.
Puja bhakti membangun suatu kebiasaan agar kita selalu mentaati sila. Dalam belajar Dharma, sangat penting untuk menegakkan sila. Sila merupakan salah satu dari 10 Paramitta (kesempurnaan) dan memang Sila terletak pada kesempurnaan nomor 1.
Hal ini menunjukkan berapa pentingnya melaksanakan sila sebagai pondasi kita untuk melangkah ke dalam kesuksesan. Kelima sila dasar dalam persiapan menjadi sukses adalah :

1. Menghindari pembunuhan atau menyakiti mahkluk lain.
2. Menghindari mengambil barang yang tidak diberikan
(mencuri)
3. Menghindari melakukan perbuatan asusila
4. Menghindari berbicara yang tidak benar ( Bohong )
5. Menghindari mengkonsumsi zat-zat yang memabukkan
Pengalaman penulis menunjukkan bahwa dengan sering melakukan puja bhakti secara kontiniu dan serius, membangun pola pikir penulis untuk menjadi waspada, semacam warning system atau sistem peringatan dini, Apabila kita hendak melakukan suatu pelanggaran sila, secara otomatis hati kita mengingatkan kita untuk tidak melaksanakannya atau menghindarinya. Sistem ini sangat efektif untuk mencegah kita melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat mengakibatkan terhalangnya langkah kita untuk menuju sukses.
Syukurlah, penulis dari awal berkarya di masyarakat sampai dengan saat ini tetap bisa berada dalam jalur Dhamma, walaupun hidup telah berkecukupan tetapi penulis dapat mempertahankan sikap :
1. Semaksimal mungkin berada dalam koridor Dhamma.
2. Tidak sombong (masih seperti dulu) dan tidak foya-foya.
3. Senantiasa berusaha berbuat baik.
4. Melimpahkan kasih kepada seluruh mahkluk.
5. Senantiasa bergembira dan enjoy dalam hidup ini.

Apabila dari awal penulis tidak rajin berpuja bhakti, maka
sekarang dengan kondisi seperti ini penulis sudah pasti terseret arus
duniawi, akibatnya pikiran penuh dengan kekotoran, keluarga
penuh konflik, fisik penuh penyakit, dan mungkin sudah punya
banyak istri simpanan.
f. Membangkitkan kekuatan dahsyat dalam diri kita
Setiap manusia mempunyai potensinya masing-masing yang sangat unik. Setiap bakat dan potensi diri ini apabila diasah dan di bina setiap hari akan menjadi talenta yang luar biasa. Tidak semuamanusia mengetahui kelebihannya bahkan cenderung manusia melihat sisi-sisi kelemahan atau sisi negatifnya, sehingga semakin menutupi atau menghambat berkembangnya potensi diri. Dengan puja bhakti secara rutin, kita dilatih untuk melihat ke dalam diri (inside), baik melalui sujud atau media meditasi atau pembacaan mantra dan sutra. Batin kita semakin terang dan tajam, semakin tenang dan berwibawa. Dalam mengambil keputusan apapun, pertimbangan dan putusan kita semakin matang ,mantap dan dewasa. Cara kita melihat diri kita sendiri akan berbeda, Kita menghargai segala kelebihan kita dan kita menyadari segalakekurangan kita. Dengan demikian kita dapat menyusun rencana dan strategi menuju masa depan yang cemerlang. Tentu proses pematangan batin kita perlu waktu dan terjadi secara bertahap. Tidak ada hasil yang dapat diharapkan seketika dan tanpa usaha. Mereka yang mengharapkan perubahan instant atau seketika adalah mereka yang berpikir tidak realistis dan cenderung utopia(berangan-angan). Proses puja bhakti yang dapat membangkitkan kekuatan dahsyat dalam diri kita secara bertahap dan pasti.
g. Membina hubungan keluarga yang harmonis.
Dalam puja bhakti, setiap hari kita mohon agar junjungan membimbing kita agar dalam kehidupan berkeluarga senantiasa harmonis, terutama Bodhisattva Avalokitesvara (Kwan Im Po Sat),Beliau Maha Welas Asih. Kita bertekad mengikuti jejak beliau dalam mengasihi semua mahkluk. Tekad ini kita bina dan latih terus menerus. Latihan yang paling dasar adalah ditujukan kepada orang14 orang terdekat kita, yaitu keluarga kita : orang tua,istri, anak-anak kita dan keluarga kita.
Hati yang menghormati dan sujud pada Kwan Im Po Sat, sangat mempengaruhi cara dan pandangan kita dalam berhubungan dengan keluarga kita. Lama-kelamaan sebagai hasil sujud dan puja bhakti kita, maka kita akan semakin toleran, lembut hati, menyayangi, mengurangi sifat-sifat egois, menjauhkan perbuatan perbuatan yang dapat merusak keharmonisan keluarga antara lain :
berzinah, berselingkuh, bertengkar, dan mau menang sendiri.
Penulis sering menjumpai pasangan hidup yang menghabiskan waktu secara sia-sia dengan bertengkar dan mempermasalahkan halhal yang sebenarnya tidak berharga untuk diributkan. Apabila keluarga bisa harmonis dan bersatu saling dukung, maka pintu sukses dan kaya terbuka sudah.

PERTANYAAN SEPUTAR PUJA BHAKTI

Untuk mempermudah pembaca memahami pengertian puja bhakti yang benar, berikut ini penulis merangkumkan beberapa pertanyaan yang sering di tanyakan oleh praktisi Dharma , sebagai berikut :

1. Saya punya altar di rumah dan setia melakukan Puja bhakti, tetapi terakhir ini hati saya ragu-ragu, Karena ada teman saya yang mengatakan saya percaya tahyul , menyembah patung dan berhala.
Jawab: Memang alasan yang paling jitu untuk menggoyangkan keyakinan kita adalah tuduhan menyembah patung dan berhala. Puja bhakti adalah sarana kita untuk melatih diri kita, Dengan adanya rupang atau patung tersebut, memudahkan kita untuk berkonsentrasi dan melatih diri. Apabila kita dapat melatih diri tanpa rupang juga tidak masalah. Tetapi kebanyakan umat awam belum dapat mencapai tahap melatih diri tanpa obyek puja bhakti. Umat dari agama apapun sama saja, ke gereja, pura, kelenteng dan vihara juga merupakan proses dari puja bhakti. Ketergantungan akan obyek-obyek tersebut baik patung, bangunannya, upacaranya, tradisinya adalah proses yang wajar untuk latihan batin. Kalau kita percaya tanpa perlu kerja dan usaha, hanya sembahyang pada patung saja permohonan kita bisa terkabul, sikap tersebut baru bolehdisebut takhayul dan berhala.
Karenanya kepada saudara-saudara se-Dharma, janganlah ragu-ragu lagi untuk melaksanakan puja bhakti.
2. Saya punya tekad untuk puja bhakti di rumah, tetapi ekonomi kami tidak memungkinkan, bagaimana caranya ?
Jawab: Bersyukurlah apabila Anda mempunyai tekad untuk puja bhakti di rumah. Dengan hati yang tulus pasti keinginan baik tersebut akan ada jalan keluar. Untuk memecahkan masalah tersebut, Yayasan Dhammadasa telah menyediakan satu set lengkap perangkat untuk puja bhakti di rumah yang terdiri dari altar, foto rupang dan perlengkapan puja bhakti. Semua orang berhak untuk sukses dan kaya, karenanya
Yayasan Dhammadasa beserta para donatur dengan senang hati membuka jalan untuk Anda yang hendak sukses dan kaya secara Dhamma , selanjutnya tergantung usaha Anda.
3. Saya setiap minggu ke Vihara, apakah masih perlu puja
bhakti di rumah?
Jawab: Ya tentu, ke Vihara sangat penting, tetapi dalam 1 minggu berapa kali kita ke vihara ? Biasanya 1 kali dan itu pun ± 2 jam. Untuk mempercepat olah batin dan persiapan menuju sukses, perlu latihan yang terus menerus dan lebih sering. Contohnya, seorang olahragawan renang yang cuma latihan satu minggu satu kali dibandingkan dengan mereka yang latihan satu hari 2 kali, mana yang lebih unggul, mana yang lebih cepat mencapai kemajuan? Proses tersebut sama persis untuk mereka yanghendak sukses, semakin sering melatih diri semakin kita cepat sampai ke tujuan.
4. Saya takut repot dan lalai dalam melakukan Puja Bhakti kalau mempunyai altar di rumah, bagaimana?
Jawab : Kunci mencapai sukses mengharuskan kerja keras dan berusaha. Kalau takut repot dan sering lalai berarti Anda memang tidak siap untuk jadi sukses. Tidak ada hasil gratis di dunia ini (No Free Lunch), karenanya Anda harus bertekad dan berusaha, tanpa itu ya sulit diharapkan hasilnya.
5. Dirumah, keluarga saya bukanlah penganut agama yang taat, saya takut puja bhakti di rumah akan mendapatkan tantangan dari keluarga saya. Bagaimana caranya untuk meyakinkan mereka?

Jawab: Kita akan dapat meyakinkan orang-orang di sekitar kita dengan memberikan contoh yang baik. Misalnya dengan melakukan puja bhakti, kita menunjukkan ada perubahan positif dalam ucapan, perbuatan, atau pikiran kita. Apabila sebelum puja bhakti kita sering bertengkar dengan orang tua, setelah puja bhakti ada perubahansikap kita yaitu lebih menghargai dan menghormati orang tua, lebih sayang kepada mereka. Dengan contoh, mereka akan juga berubah, mereka akan mengikuti Anda dengan melakukan puja bhakti di rumah juga. Bukankah dengan demikian Anda telah melakukan kebajikan yang tak terbatas, menyadarkan orang tua dan keluarga untuk berjalan dalam Dhamma dan Kebenaran. Langit dan bumi akan bergetar akan jasa Anda dan tentunya kesuksesan Anda juga akan segera terwujud.
6. Bagaimanakah bentuk persembahan untuk altar di rumah ?
Jawab: Dalam Puja Bhakti di rumah, yang terutama perlu diperhatikan adalah kesungguhan dan ketulusan hati kita dalam menjalankan Puja Bhakti. Persembahan bukanlah diukur dari jumlahnya tetapi dari kualitas hati kita. Para Junjungan kita tidak perlu lagi menerima persembahan benda materi dari kita, mereka telah mencapai kesucian, tetapi persembahan adalah wujud bhakti dan terima kasih atas segala petunjuk dan bimbingan mereka, dan yang terutama persembahan merupakan sarana latihan untuk diri kita sendiri. Karenanya dalam puja bhakti yang perlu di perhatikan adalah :
a. Kualitas hati, kesungguhan dan ketulusan hati.
b. Bentuk-bentuk persembahan hendaknya tidak terlalu
berlebih-lebihan, cukuplah yang wajar saja.
Contoh: tidaklah perlu membakar lilin atau hio raksasa,
cukuplah yang wajar saja.
c. Bentuk persembahan yang biasa adalah hio, lilin, air teh.
Bentuk persembahan lengkap adalah persembahan biasa
ditambah: buah, kue, permen dan bunga.
d. Puja Bhakti di lakukan setiap pagi dan malam hari.
e. Persembahan di hari biasa umumnya hio, lilin dan air teh,
pada hari besar (tangga 1 dan 15 pada tanggalan Imlek/Lunar
atau hari besar junjungan kita), persembahan diusahakan yang lengkap, jumlahnya disesuaikan dengan kemampuan kita.
7. Apa arti persembahan kita ?
Jawab :
a. Lilin melambangkan :
~ Cahaya penerangan yang menerangi kegelapan batin kita dan semua mahkluk.
b. Hio melambangkan :
~ Keharuman perbuatan baik yang akan menyebar ke seluruh angkasa.
c. Buah melambangkan :
~ Hasil yang akan dicapai sebagai akibat dari perbuatan baik.
d. Bunga melambangkan :
~ Ketidakkekalan dari segala sesuatu, kecantikan dan keindahan akan memudar dan berubah (anicca)
e. Permen melambangkan :
~ Semua usaha yang berlandaskan ketekunan dan keteguhan yang berniat baik, akan menikmati hasil yang manis.
f. Air teh melambangkan :
~ Suatu proses pencucian kekotoran batin kita.

8. Apakah tidak mubazir semua persembahan yang kita lakukan ? Biaya hidup sudah tinggi, di tambah dengan biaya persembahan, apa hidup tidak semakin menderita ?
Jawab: Pertanyaan yang bagus sekali. Penulis belum pernah mendengar orang yang rajin sembahyang bangkrut, hanya karena sering mengadakan persembahan. Yang sering kita dengar adalah orang bangkrut karena judi atau foya-foya. Semua persembahan di lakukan sesuai kemampuan kita dan setelah sembahyang, dan hasil persembahan juga kita yang makan. Dengan demikian tidaklah mubazir, sebenarnya apa saja dapat dipersembahkan kepada junjungan kita sepanjang barang tersebut bernilai dan pantas.

Dalam salah satu kisah di zaman Hyang Buddha, dikisahkan dalam suatu kesempatan kehadiran Hyang Buddha di satu tempat, masyarakat berlomba-lomba memberikan persembahan terbaik, seorang nenek miskin pengagum Hyang Buddha, hatinya sangat berbunga dan bahagia mendengar Junjungannya akan mengunjungi kotanya, namun apa mau dikata, hati ingin sekali berdana kepada Junjungannya tetapi hidup dililit kemiskinan, satu sen pun tidak tersisa. Didorong oleh bhakti dan tulus yang begitu mendalam, sang nenek memutuskan memotong rambutnya yang panjang dan menjualnya demi beberapa sen untuk membeli pelita untuk di persembahkan. Pada saat Hyang Buddha berceramah, datanglah angin kencang yang ditiupkan Mara (semacam kekuatan jahat) untuk menggangu Hyang Buddha, semua persembahan pelita mati tertiupangin, keculai pelita sang nenek. Kenapa pelita sang nenek tidak padam ? Karena pelita tersebut dipersembahkan betul-betul dari hati dan ketulusan, dan ditukar dengan barang yang sangat bernilai buat
sang nenek yaitu rambutnya.
Dari kisah ini dapat diambil hikmah bahwa persembahan kepada Junjungan harus berasal dari hati dan ketulusan bukan dari jumlah atau kualitas benda persembahan. Penulis mempunyai pengalaman sendiri yang sangat unik, setiap persembahan yang penulis lakukan, selalu membawa kebahagiaan. Contohnya dalam buku “Mencapai Kekayaan Duniawi”, penulis menceritakan kisah penulis yang dalam keadaan ekonomi yang tidak begitu baik, bertekad memasang altar di rumah
dengan Junjungan Bodhisattva Satya Dharma (Kwan Kong). Tidak lama kemudian Penulis mendapatkan rezeki nomplok 40 kali dari biaya yang telah Penulis keluarkan, sungguh suatu keajaiban.

9. Bagaimana tata cara puja bhakti yang baik ?
Jawab: Tidak ada satu ketentuan dasar tentang tata cara puja bhakti, begitu banyak tradisi yang berkembang dan masing-masing tradisi mempunyai tata cara tersendiri.Apabila kita tidak mengikuti salah satu tradisi, maka tata cara sederhana ini dapat diikuti, yaitu sebagai berikut :

a. Altar senantiasa harus terjaga kebersihan dan kerapihannya, jangan terlalu banyak menaruh barang yang tidak ada hubungannya dengan persembahan di altar. Altar yang bersihdan rapih memancarkan kewibawaan, bagi kita yang melihat pun hati menjadi tenang dan senang.
b. Setiap pagi hari mempersembahkan air teh, lilin dan hio. Setiap malam mempersembahkan hio dan lilin. Besar kecilnya hio di sesuaikan dengan situasi dan kondisi ruangan. Setiap tanggal 1 dan 15 kalender lunar dan hari besar Junjungan persembahan diusahakan yang lengkap. (hio setelah sembahyang mau di letakkan di hio lo Thien Kong juga boleh).
c. Sewaktu mempersembahkan hio, dalam hati mengucapkan hal-hal sebagai berikut :
~ Mengucapkan terima kasih kepada Junjungan atas semua bimbingan yang telah di berikan.
~ Mendoakan agar semua mahkluk Berbahagia, Negara makmur dan sentosa.
~ Mendoakan semua Karma baik kita berbuah, keluarga bahagia, sehat dan semua usaha kita lancar dan sukses.
~ Atau hal-hal lain yang perlu kita sampaikan.
d. Setiap hari melaksanakan meditasi dan pembacaan mantra sebagai bagian dari puja bhakti.
e. Setiap proses puja bhakti di laksanakan dengan khidmat, tulus, dan penuh penghayatan.

10. Saya pernah membaca bahwa salah satu belenggu untuk mencapai pembebasan adalah menganggap puja bhakti dapat membawa menuju kesucian, mohon tanggapannya.

Jawab : Memang benar untuk mempraktekkan Dhamrma yang baik dan benar adalah melalui Aum (pikiran), Ah (ucapan), Hum (perbuatan). Ketiga-tiganya harus di praktekkan sejalan dan samasama maksudnya harus sesuai antara ucapan, perbuatan dan pikiran. Jangan mulut manis, tapi hati penuh iri dan benci. Puja bhakti adalah kunci penting untuk masuk pintu Dharma. Kunci artinya dipakai untuk membuka hati kita agar melihat kebenaran. Kita tidak boleh mempunyai asumsi dengan puja bhakti atau sembahyang semuanya sudah beres. Kalau begitu semua orang bisa jadi suci dan masuk surga dengan mudah walau setelah puja bhakti dia melakukan perbuatan-perbuatan yang menimbulkan karma buruk.

Dengan puja bhakti, orang akan mulai senang dengan Dharma, orang mulai membaca buku Dharma, orang mulai berbuat baik, mengurangi perbuatan buruk, mulai meditasi, mulai latihan tingkat yang lebih tinggi, dengan demikian kesucian dapat diperoleh. Kalau kita bisa memahami nilai puja bhakti tentu kita tidak akan takut untuk melekat dan menjadi terbelenggu.

11. Ada sebuah buku yang membahas tentang altar, dalam buku tersebut menceritakan rupang dewata yang ditempeli oleh jin, kami jadi khawatir untuk mendirikan altar dan mulai puja bhakti, bagaimana pendapat Bapak ?

Jawab: Di langit ada hukum langit, di antara manusia ada hukum manusia, demikian juga di alam jin-jin / siluman, ada hukumtersendiri. Setiap kita mendirikan altar puja, di langit akan tercatat nama dan alamat kita, alam dewata mempunyai Dharmapala (penjaga Dharma) yang akan rutin melakukan tugas melindungi para praktisi Dharma , bagaimana mungkin jin/siluman berani menggangu/menempel ?
Dalam melakukan puja agar selalu ingat bahwa rupang/ gambar junjugan kita hanyalah lambang, yang selalu mengingatkan kita akan sifat-sifat suci dari junjungan yang harus kita teladani, misalnya : Kwan Im Hut Co, dengan sifat welas asih dan penolong mereka yang menderita. Dewa Kwan Kong, dengan sifat suci, setia, jujur dan adil. Pada intinya, jangan percaya akan hal-hal yang tahyul, mantapkan hati untuk mempraktekkan Dharma.

12. Apa benar setiap tahun kita harus memeriksa altar kita, baik posisi altar, maupun kebersihan rupang ? Menurut buku yang sayabaca, kita harus memanggil ahli spiritual untuk melakukan penilaian?

Jawab: Sekali lagi diingatkan fungsi altar adalah untuk sarana latihan agar kita selalu rajin dan disiplin dalam melaksanakan Dharma. Menjaga kebersihan Altar merupakan kewajiban, tetapi janganlah kita terobsesi oleh hal-hal yang bersifat klenik / tahyul, misalnya : percaya bahwa rupang bisa ditempeli jin/siluman. Kalau ada ahli spiritual yang menyarankan untuk pemeriksaan altar setahun sekali, maka perlu di pertanyakan, ada motivasi apa di balik saran tersebut ?Selama 15 tahun melakukan puja bhakti, penulis tidak pernah melakukan dan tidak pernah percaya akan hal-hal yang bersifat tahyul. Karena hal tersebut tidak sesuai dengan Dharma dan tidak sesuai dengan tujuan kita bersarana/ ber-puja bhakti. Saran kami kepada para praktisi Dharma, hati harus teguh dan mantap dalam praktek Dharma, salah satu hambatan utama praktek Dharma adalahkeragu-raguan, buang jauh-jauh keraguan Anda, Lonceng Dharma sudah berdentang, bangkitlah segera.
13. Saya bercita-cita membuat ruangan khusus untuk Puja Bhakti, bagaimana pendapat Bapak ?
Jawab: Sangat luar biasa. Apabila rumah Anda telah memungkinkan, segeralah buat rupang khusus untuk puja bakti. Beberapa keuntungan mempunyai ruang khusus puja bakti, antara lain :
~ memacu semangat kita untuk mendalami Dharma.
~ kita memasuki tahap penting dalam belajar Dharma, karena kita telah menempatkan Dharma sebagai tujuan utama dalam hidup kita.
~ keluarga kita akan bersemangat dalam puja bhakti, terutama anak-anak kita. Kita yang telah memberi mereka teladan, contoh yang baik, benteng diri yang kokoh bagi anak-anak untuk menghadapi berbagai godaan dan cobaan di masyarakat.
~ mereka yang telah memiliki ruang khusus puja bhakti, jarang yang keluar lagi dari jalur Dharma.
Kami menganjurkan kepada siapapun untuk bercita-cita mempunyai ruang khusus puja bhakti dan mewujudkannya segera.

~LANGKAH II~
MEMBACA SUTRA DAN MANTRA

Bagi mereka yang belum berhasil, baik dari kehidupan duniawi maupun spiritual, tentunya mempunyai sebab musabab. Apabila Anda telah berusaha selama ini tetapi selalu ada hambatan, atau belum berhasil, masalahnya sebagian besar ada di karma lampau yang tidak mendukung. Kita memang tidak dapat mengetahui apa saja perbuatan kita di masa lampau, tetapi efeknya / akibatnya dapat dirasakan saat ini,
karena perlu usaha ekstra keras untuk mengurangi efek negatif karma lampau kita. Memang kita bisa melakukan banyak perbuatan baik untuk mengimbangi karma lampau yang tidak mendukung,Tetapi cara tersebut tidak bisa memberi efek yang segera. Satusatunya cara untuk mengurangi karma buruk masa lampau yang menghalangi jalan keberhasilan adalah tekad yang mantap. Sikap bertobat dan segera membaca sutra dan mantra dalam jumlah banyak secara teratur, disiplin , dan penuh ketulusan dan hormat. Sutra dan Mantra merupakan intisari ajaran Dhamma:
misalnya Sutra Hati (Sing Cing), merupakan sutra dengan kebijaksanaan tertinggi yang merupakan intisari dari 600 jilid buku tentang kebijaksanaan. Coba bayangkan, kapan habisnya kita membaca 600 judul buku tersebut ? Sutra hati membuka semua pintu Dharma kita, mereka yang membacanya dengan sungguh-sungguh akan menghapuskan kebodohan batin kita, meningkatkan kebijaksanaan, dan segera mencapai keadaan batin yang membahagiakan.
Mantra Ta Pei Chou (Mantra Dharani Agung), merupakan mantra yang menggambarkan 84 wujud Bodhisattva dalam menolong semua penderitaan mahkluk. Sumpah Avalokitesvara Bodhisattva dalam Sutra Dharani Hati Kasih Sayang Agung. Jika siapa saja yang mengucapkan Mantra Suci ini tidak dapat memperoleh apa yang di carinya, maka ini bukanlah Mahakaruna Dharani (Dharani Kasih Sayang Agung). Sumpah tersebut sungguh dahsyat dan penuh kekuatan pengabul. Yang Mulia Tripitaka Acarya Hsuan Hua dalam penjelasannya tentang Mantra Welas Asih menyebutkan sebagai berikut : Ketika Mantra Welas Asih Agung diucapkan, langit membelah dan bumi bergetar, karena Mantra ini menembus langit dan bumi. Jika Mantra ini diucapkan seratus delapan kali setiap hari selama seribu hari, kira-kira tiga tahun, dan diucapkan pada waktu yang sama setiap hari, tanpa terselang satu hari pun, sepuluh raja penguasa neraka di Istana Yama akan bergembira.
Mengapa di sebut “Mantra Welas Asih Agung ? “ Karena welas asihnya dapat menyembuhkan semua mahkluk hidup dari semua penderitaan dan kesukaran. Karena menyembuhkan penderitaan dan menganugerahkan kebahagiaan, maka mantra ini disebut Mantra Welas Asih Agung. Yang paling penting, mantra ini manjur menyembuhkan penyakit. Penyakit apapun jika Mantra Welas Asih Agung diucapkan, akan tersembuhkan. Ada yang bertanya “Saya telah mengucapkannya berkali-kali, tetapi mengapa penyakitku tidak sembuh-sembuh ?” Ia belum tersembuhkan karena hatinya tidak tulus, siapapun pasti akan mendapatkan hasil dengan membaca mantra ini. Jika mantra ini telah diucapkan seratus delapan kali setiap hari selama seribu hari, sepuluh penguasa di Istana Yama akan bersenang hati, dan semua penyakit akan disembuhkan. Orang yang mengucapkan mantra ini, pada saat itu akan memperoleh tak terhingga banyaknya buah jasa baik, karena selama tiga tahun , pada saat mengucapkan mantra, Ia tidak menanam karma buruk, Ia tidak meminum minuman keras, ia tidak memakan daging maupun lima tanaman pedas.
Di dalam neraka terdapat sebuah panggung, di atas panggungini tertancap sebuah “Layar Kejahatan”. Pada layar itu, orang dapat menyaksikan seperti layaknya bioskop saja, semua perbuatan yang pernah ia lakukan seperti membunuh, mencuri, membakar rumah, semuanya ditampilkan sekali lagi. Namun jika ia tidak memiliki karma, tidak ada yang muncul di atas layar itu. Karena ia kosong dari rintangan karma, mahkluk-mahkluk neraka mengumumkan di atas layar, bahwa “Si ini dan itu telah mengucapkan Mantra Welas Asih Agung.” Ia telah memusnahkan karma-karma buruknya. Sejak itu, semua hantu dan mahkluk halus di dalam neraka harus membungkuk dan memberi hormat kepadanya, seolah-olah mereka sedang berhadapan dengan semua Buddha dari masa lalu, masa sekarang , dan masa yang akan datang. Mahkluk -mahkluk itu akan berusaha melindunginya, seperti mereka berusaha melindungi para Buddha. Di samping itu mereka juga harus memberitahu semua hantu dan mahkluk halus yang lain agar menjauhkan segala macam kesulitan darinya. Seperti inilah, kekuatan Mantra Welas Asih Agung tak terperikan.
Ada Amitabha Sutra (Amito Cing), Yang isi pokoknya mengajarkan kita untuk menyebut Amitabha Buddha, Yaitu “Namo Amitabha Buddha“ atau “ Namo Omi To Fo.“ Hyang Buddha Amitabha mempunyai pertalian amat erat dengan makhluk hidup di dunia saha (samsara). Sebelum beliau mencapai tingkat Buddha, beliau melakukan 48 sumpah dan masing-masing mengenai usaha membawa makhluk hidup ke tingkat Buddha. Apabila kita yang hendak sukses dan berhasil, membaca terus menerus “Namo Amitabha Buddha“, atau “Namo A Mi To Fo“, niscaya seluruh karma buruk lampau akan cepat terkikis, dan kelak dapat terlahir di surga Sukhavati. Menyebut nama Buddha, adalah meletakkan dasar yang kuat dan menanam karma baik. Ada lagi satu mantra ajaib, yaitu Mantra dewa Bumi, Mantranya berbunyi : “Namo Sam Bwan To, But To Nam, Om Tu Lu Tu Lu Ti Bwe Sa Po Ho.“ Mantra ini mantra yang telah banyak memberikan bukti untuk keberhasilan dan kesuksesan seseorang. Kita tahu Dewa Bumi adalah Dewa yang paling dekat hubungannya dengan manusia. Mengucapkan mantranya terus menerus membuat Kerajaan Dewa Bumi bergetar, Dewa Bumi wajib muncul untuk membantu. Telah banyak bukti dalam kehidupan sehari-hari, banyak yang mendapatkan pertolongannya.

Membaca Mantra dan Sutra agar dapat berhasil, adalah dengan tekad yang bulat, hati yang tulus, hormat, dan niat yang baik. Di bacanya harus dalam jumlah besar. Misalnya Mantra Ta Pei Chou, minimal 1000 kali, baru akan membawa hasil, dan mantra yang pendek akan membawa hasil apabila di baca terus menerus sebanyak mungkin.

~LANGKAH III~
RAJIN DAN BERSEMANGAT
Untuk sukses, 2 perkataan ini yaitu rajin dan bersemangat sangat penting dan harus ada. Baik dalam bidang spiritual maupun karir / bisnis, misalnya dalam melakukan puja bhakti, rajin dan bersemangat merupakan pondasi yang sangat penting, demikian juga dalam kita bekerja untuk mencapai kekayaan dan kesuksesan. Orang yang punya warisan banyak dari orang tua, tetapi malas dan tidak bergairah, maka hartanya tentu bukan bertambah malah berkurang. Tetapi mereka yang tidak kaya tetapi senantiasa memelihara sifat rajin dan bersemangat, maka pintu kekayaan dan kesuksesan akan segera terbuka. Rajin dan bersemangat adalah 2 kata yang seperti mantra hebat. Jangan pernah putus asa dalam segala hal. Menurut pengalaman penulis, biasanya 10 tahun pertama memulai usaha atau pekerjaan, merupakan masa-masa awal untuk perjuangan berat, 10 tahun kedua adalah masa-masa pertumbuhandan 10 tahun ketiga adalah masa menikmati hasil
.
Jadi orang harus ada semangat Fight(berjuang), ibarat petinju, kalau semangat fightnya tidak ada, maka sebelum pertandingan dimulai, sudah boleh disebut petinju tersebut sudah kalah. Demikian juga kita, tidak ada yang tidak bisa, kalau si Anu bisa, saya juga bisa. Kalau betul-betul sudah dicoba tidak bisa, maka berarti kita sudah harus mengadakan evaluasi, apa ada yang salah ? Pelajari kekurangan kita, perbaiki dan maju lagi pasti akan berhasil. Diri kita jangan cengeng, mau yang serba cepat dan enak, tidak mau bersusah payah dan berjuang. Zaman memang telah berubah, kehidupan semakin maju, mental fighting spirit semakin tipis dan sering membanding-bandingkan pekerjaan atau usahanya dengan orang lain.
Penulis beritahu, jual tempe saja bisa kaya raya. Kalau jadi Raja Tempe apa tidak hebat ? Tempe bisa diolah menjadi snack yang bermutu dan bergizi dan diekspor ke seluruh dunia, apa tidak hebat?

Dalam melakukan suatu tugas atau pekerjaan, haruslah dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan betul-betul dihayati. Apa penghalang terbesar manusia untuk maju? Sikap diri manusia itu sendiri. Sikap memandang rendah potensi diri, belum dicoba, dalam diri sudah timbul perasaan tidak mampu, sulit, tidak suka, malas, banyakberkeluh kesah.
Apabila Anda mempunyai sikap mengkerdilkan potensi dirimu sendiri, maka Anda tidak akan pernah maju dan sukses. Kita harus menghargai potensi diri kita sendiri, potensi kita adalah unik dan spesial dan kalau dikembangkan dengan baik, pasti luar biasa. Dalam sutra hati (Sing Cing) telah di sebutkan bahwa setiap orang, bagian dari orang tersebut, perubahan-perubahan dari panca skandanya (rupa, perasaan, persepsi, reaksi, kesadaran ) adalah unik dan berbeda dengan lainnya, tidak ada yang sama.
Beberapa kiat agar kita selalu rajin dan bersemangat :
1. Jangan memandang rendah pekerjaan atau usaha apapun.
2. Tidur dan bangunlah dengan teratur, setiap hari minimum 7
jam, agar badan Anda segar dan sehat.
3. Yakinlah Anda adalah pribadi yang luar biasa, selalu ada
kelebihan potensi dirimu yang bisa di kembangkan.
4. Rajinlah puja bhakti.
5. Senangi semua pekerjaanmu.
6. Rajinlah berbuat kebaikan.
7. Belajarlah terus, tiada kata terlambat untuk belajar.
8. Jangan pernah iri hati atau benci pada kesuksesan orang, sifat tersebut hanya membunuh potensi kita sendiri.
9. Semua kegagalan adalah langkah awal untuk sukses. Ingat ! Bayi tidak ada yang bisa langsung jalan, mereka harus belajar merangkak dan jatuh berkali-kali. Bayi kan tidak pernah putus asa, kalau bayi saja tidak putus asa, apalagi Anda yang sudah dewasa, apa tidak “Malu” ?

10. Sukses dan kaya adalah hak setiap orang termaksud hak Anda. Keputusan Andalah yang menentukan apakah Anda mau sukses atau tidak. Jadilah Boss bagi dirimu sendiri.
11. Jangan takut dan tidak pernah menyesal atas keputusan
yang telah diambil. Kalau salah segera perbaiki. Hyang Buddha mendukung 4 kondisi yang kalau di penuhi dapat memberikan suatu kemakmuran, kekayaan dan kebahagiaan, yaitu :
a. Rajin dan semangat, terampil, sungguh-sungguh dalam bekerja dan memahaminya dengan baik (utthana-sampada)
b. Melindungi penghasilannya yang telah didapat dengan benar dan hati-hati (arakkha-sampada)
c. Memiliki sahabat yang baik, jujur, dan bijaksana yang dapat membimbingnya menuju keberhasilan dan kesuksesan (kalyana-mittata)
d. Hidup seimbang antara penghasilan dan pengeluaran, tidak boros dan tidak kikir (samaji vitaka) Di sini dapat di lihat dengan jelas, Rajin dan Bersemangat menempati posisi penting untuk mencapai kekayaan dan kesuksesan secara materi maupun batin.

~LANGKAH IV , V , dan VI~
LAKSANAKAN INTI SARI AJARAN
SELURUH BUDDHA

Untuk mencapai sukses, kekayaan,, kedudukan sosial yang tinggi, kebahagiaan baik materi maupun spiritual, tidak ada jalan lain kecuali satu. Apakah jalan yang satu itu? Sang Buddha menjelaskan “Jalan satu itu adalah jalan yang telah saya lalui, jalan yang akan membawamu menuju kebahagiaan dan pembebasan” Jalan satu itu adalah melaksanakan Dhamma. Pada suatu ketika, Hyang Buddha sedang berjalan di keramaian, tiba-tiba seorang umat awam bersujud di hadapan HyangBuddha dan mohon dengan hormat agar kepadanya di berikan inti sari ajaran Buddha yang singkat, padat, dan mudah dimengerti. Hyang Buddha tersenyum, “Anakku, sapanya dengan nada yang merdu nan indah, hanya satu ajaran para Buddha yang diajarkan para Buddha terdahulu, sekarang, dan yang akan datang, dengarkanlah dengan seksama : “Berbuatlan kebajikan, Kurangi kejahatan, Sucikan pikiran”, inilah inti ajaran para Buddha. Sambil berlalu, Sang Buddha kembali melemparkan senyumnya yang gagah rupawan, sambil berkata Laksanakanlah.
Sebagai umat awam, satu-satunya masalah yang kita hadapi adalah terlalu banyak teori dan N.A.T.O. (No Action Talk Only) artinya lebih banyak bicara daripada bertindak. Untuk sukses, kaya dan bahagia, tidak ada kunci lain kecuali “Laksanakanlah.” Inti ajaran Buddha tersebut. “Seribu ayat suci bisa dihafal, tapi melaksanakan satu ayat suci jauh lebih bernilai.” Segala sesuatu di mulai dengan langkah pertama, melaksanakan inti ajaran Buddhauntuk mencapai keberhasilan tidaklah sulit.

~LANGKAH IV~
BERBUAT KEBAJIKAN

Hukum alam ini sungguh adil, siapa yang berbuat kebajikan akan memetik kebahagiaan sedangkan melakukan perbuatan tidak baik akan mendapatkan ketidakbahagiaan. Untuk mendukung kesuksesan dan keberhasilan kita, maka perlulah upaya dari kita untuk melakukan kebajikan, buah atau akibat dari perbuatan kita akan menjadi faktor yang cukup menentukan dalam keberhasilan hidup kita.

Dalam kotbah penimbunan harta kekayaan, Hyang Buddha memberi jalan kepada kita untuk sukses dan kaya, beliau mengingatkan kita :
a. Harta materi yang kita simpan, suatu saat akan hilang.
b. Gemar berdana, memiliki moral yang baik, dapat menahan nafsu dirinya, mempunyai pengendalian diri adalah timbunan harta yang terbaik, paling sempurna, tidak mungkin hilang dan dapat di bawa walau meninggal dunia.
c. Dengan menimbun jasa kebajikan ini, maka apa yang diinginkan akan tercapai.
d. Yang dapat diperoleh dengan timbunan harta kebajikan ini
antara lain : wajah cantik dan elok, kekuasaan dan pengikut, kebahagiaan seorang raja dunia dan raja surga, kekayaan manusia, memiliki kebijaksanaan, sahabat-sahabat sejati, memiliki pengetahuaan untuk mencapai pembebasan, bahkan untuk menjadi Buddha, semuanya berkat buah kebajikan. Tidak ada orang yang sukses dan kaya tanpa didukung oleh timbunan karma kebajikan dia baik masa lampau atau sekarang. Agama atau keyakinan apapun yang dimiliki, percaya atau tidak percaya pada Hukum Karma (sebab akibat), tetaplah akar dan pondasi kejayaannya adalah buah kebajikannya. Hukum Alam berlaku universal, tidak membeda-bedakan suku, ras, agama, dan golongan. Karena itulah di sebut Hukum Alam.

Penulis sejak mengenal Dhamma tahun 1989, tiada hentihentinya melakukan perbuatan-perbuatan baik. Mulai dari berdana , menulis buku Dhamma, menyebarkan buku Dhamma, memberi ceramah Dhamma, melepaskan mahkluk hidup, hidup semaksimal mungkin menjalankan sila walaupun belum sempurna, melakukan puja bhakti tanpa henti, membaca mantra, melakukan meditasi, melakukan pengendalian diri dan sebagainya. Walau hasilnya telah terbukti. Dalam hati penulis senantiasa mencari jalan bagaimana untuk terus melakukan kebajikan.
Untuk tahap awal, memang banyak kendala atau hambatan berbuat baik, tetapi dengan tekad untuk sukses dan kaya baik dari materi atau spiritual, tiada jalan lain, inilah jalan yang utama yang telah disampaikan oleh para Buddha, para Bodhisattva, para Dewata. Seperti seorang petani yang hendak memanen padi, dia mengetahui dengan jelas apabila dia tidak menanam bibit, dia tidak akan memanen padi.
Demikian juga seorang petani akan mengetahui dengan jelas untuk mendapatkan hasil panen yang baik, dia harus bekerja mulai dari menebarkan bibit yang baik, bekerja dengan rajin dan bersemangat, memperhatikan dan memupuk tanamannya dengan baik, menanam pada musim yang tepat, maka hasil panen yang akan diperoleh pasti baik.
Demikian juga kita, apabila ingin berhasil, sukses, kaya, maka kita dengan jelas mengetahui kita harus menanam terlebih dahulu, harus bekerja dan hasilnya pasti akan baik dan sesuai dengan keinginan kita.
Penulis selalu menekankan ini adalah Hukum Alam, bukan hukum agama Buddha atau agama lain. Karena siapapun dia, walau tidak mengerti Hukum Karma (sebab-akibat), apabila dia melakukan hal-hal tersebut di atas, maka kebahagiaan dan kesuksesan, kekayaan akan tetap menjadi miliknya.
Hanya kita yang mengenal Dhamma melalui ajaran Buddha sangatberuntung, karena kita mengetahui jalan dan kebenaran tersebut. Dengan demikian kita dapat segera melaksanakan kebenaran tersebut dan segera memetik hasil. Bagaimana kriteria melakukan perbuatan baik ? Karena kadang menurut kita baik, orang lain belum tentu sependapat, kriteria atau ukuran umumnya yaitu adalah apabila perbuatan kita memenuhi syarat :
a. Membawa kebahagiaan pada makhluk lain.
b. Setelah kita lakukan, kita merasa senang dan bahagia.
c. Tidak merugikan orang lain.
Untuk lebih membawa keberhasilan yang cepat, mantap, dan langgeng, maka melakukan kebajikan adalah suatu keharusan. Perbuatan yang baik dapat di lakukan melalui 3 cara :
a. Om = Perbuatan
b. Ah = Ucapan
c. Hum = Pikiran

Hal ini membuktikan bahwa untuk berbuat baik, lebih banyak tidak perlu keluar biaya. Perbuatan baik melalui ucapan dan pikiran tidak memerlukan biaya atau pengorbanan materi sama sekali. Berucap yang sopan, baik, sering memuji orang, menjauhkan ucapan yang dapat menyakiti hati orang, menyadarkan orang-orang tersesat atau belum mengerti Dhamma adalah contoh perbuatan-perbuatan baik yang tanpa perlu mengelurkan biaya.
Hyang Buddha pernah bertanya kepada Subhuti, salah seorang muridnya, “Subhuti, menurutmu apakah persembahan seluruh batu mulia di seluruh muka bumi ini kepada dua orang muridku yang utama, yaitu Sariputra dan Monggalana, merupakan persembahan besar ?” , Subhuti menjawab, “Sungguh besar sekali guru“, Hyang Buddha dengan penuh welas asih menjelaskan kepada Subhuti.“ Mereka yang merenungkan dengan penuh konsentrasi tentang ketidakkekalan, pahalanya jauh melebihi persembahan tersebut.” Itulah salah satu contoh kekuatan pikiran baik yang maha dahsyat.
Perbuatan baik juga sebagian dapat dilakukan dengan mengeluarkan biaya dan sebagian tanpa biaya. Perbuatan baik tanpa mengeluarkan biaya, mudah sekali di jumpai dan di laksanakan dalam kehidupan kita sehari-hari. Contohnya menghibur mereka yang sedang bersedih atau
memberikan pengertian Dharma bagi mereka yang belum memahaminya. Kalau Anda sukses, kaya dan berhasil, jadilah yang disenangi dan dipuji oleh masyarakat, hal ini berkaitan dengan perkembangan spiritual dari kita. Jangan sukses dan kaya, tapi di cela dan di benci oleh masyarakat, tidak disenangi oleh teman dan tetangga. Sukses dan kaya di atas penderitaan orang, sungguh merupakan hal tercela.

Kekayaan dan kesuksesan kita haruslah membawa manfaat bukan cuma untuk€ diri kita. Hendaknya manfaat dapat di rasakan oleh masyarakat kita. Berbuat baiklah terus menerus, sehingga menjadi suatu kebiasaan yang mendarah daging, dengan demikian kita akan memastikan kesuksesan dan kejayaan kita akanberlangsung untuk waktu yang lama.

~LANGKAH V~
KURANGI KEJAHATAN

Kalau disebut kurangilah kejahatan, artinya secara umum, manusia sering berbuat kejahatan, yang dapat merugikan orang lain.Hal ini karena manusia masih diliputi oleh 5 kekotoran batin yang gawat yaitu :
a. Nafsu keserakahan
b. Kebencian / kemarahan
c. Kegelapan batin (ketidaktahuan)
d. Kemalasan / kebosanan
e. Keragu-raguan
Lima kekotoran batin ini sudah mengikuti manusia sejak dulu, karenanya secara realistis, tidak mudah menghapuskannya secara total dalam waktu yang singkat, kita harus berusaha mengurangi secara berkala. Dulu sehari melakukan 20 kejahatan melalui ucapan, perbuatan, dan pikiran, sekarang kalau mau sukses dan kaya luar dalam, kurangilah jadikan 10 kali, perlahan-lahan turun 5 kali dan seterusnya.
Kelima kekotoran batin itu membuat kita menderita. Kita iri hati dengan orang, kita menderita. Kita marah ke orang lain, yang paling menderita diri kita. Kita dipenuhi nafsu keserakahan, kita yang menderita. Jadi, jadilah orang sukses dan kaya yang bahagia, bukan orang sukses dan kaya yang menderita. Orang semakin kaya dan sukses pada umumnya semakin serakah, kikir, sombong, kejam, tidak peduli kepada penderitaan orang lain. Manusia jenis ini tentu bukan tujuan dari penulisan buku ini. Penulis akan berdosa apabila telah memberikan resep kepada pembaca dan setelah berhasil, hanya mementingkan diri sendiri.

Kejahatan juga dilakukan melalui 3 cara :
a. Om = Perbuatan
b. Ah = Ucapan
c. Hum = Pikiran
Dengan perbuatan melalui tubuh, kita melakukan hal-hal yang merugikan diri sendiri dan orang lain, antara lain dengan melanggar sila, menyakiti makhluk lain, mengambil barang orang lain tanpa seizin pemilik barang, berzinah, mabuk-mabukkan dengan minuman dan/atau obat-obatan terlarang. Dengan pikiran seringkali kita dikuasai oleh nafsu
keserakahan, kebencian, kegelapan batin, kemalasan, dan keraguraguan.

~LANGKAH VI~
SUCIKAN PIKIRAN
Pikiran merupakan pelopor, karenanya pikiran yang baik dan murni akan membawa ucapan dan perbuatan yang baik juga. Ajaran Hyang Buddha sangat menekankan pentingnya mengolah pikiran. Pikiranlah sumber awal dan sumber utama dari semua perbuatan dan ucapan hati. Untuk menjadi sukses dan kaya, pikiran memainkan peranan yang sangat penting, itulah sebabnya para ahli kejiwaan, ahli marketing, ahli motivasi mengetahui betul bahwa umat awam ini perlu dibekali pikiran-pikiran positif agar dapat berhasil. Slogan-slogan “Saya Bisa Sukses”, “Sukses Adalah Hak Saya”, atau “Gagal adalah Awal Sukses” semua itu adalah slogan-slogan yang dapat mempengaruhi pikiran. Mereka yang telah mengerti Dhamma dan mempraktekkannya, tidak perlu lagi khawatir untuk tidak sukses, apabila kita mengetahui salah satu hukum tertinggi dalam alam semesta ini yaitu Hukum Kesunyataan atau Hukum Perubahan, maka semua proses yang terjadi baik sukses ataupun gagal adalah proses perubahan yang dapat di amati secara ilmiah, dengan ditambah Hukum Sebab Akibat yang secara bergantungan, maka lengkaplah ilmu kita, tinggal bagaimana mempraktekkannya saja.

Mari kita amati proses ilmiah dari suatu kesuksesan :
Pikiran positif, yang tenang, yang selalu ingin menambahkan pengetahuan dengan banyak bertanya, pikiran yang kritis (yang selalu dapat melihat peluang dan ancaman). Tanpa kualitas pikiran diatas, maka pikiran menjadi beban atau penghalang untuk sukses. Sebaliknya dengan pikiran negatif, dengan berpikiran negatif kita akan selalu memandang segala sesuatu dari sisi negatif, misalnya, Ada peluang kita untuk mendapatkan untung dari suatu pekerjaan sebesar Rp. 20.000.000,- , pikiran negatif kita akan menghalau kita dengan kata-kata “Apa benar bisa untung, kalau bisa untung mengapa orang lain tidak mengambil kesempatan ini ?” jangan-jangan ada resiko besar untuk rugi, akhirnya karena pikiran tidak mendukung dan karena selalu berpikiran negatif, peluang yang
ada pun akan menjadi hilang. Hyang Buddha telah memberikan resep dan rahasia bagaimana mengolah pikiran kita, sehingga pikiran kita menjadi dahsyat. Teknik-teknik mengolah pikiran yang sering kita sebut dengan meditasi telah dikenal 3000 tahun sebelumnya, dan mempraktekkan teknik mengolah pikiran menjadi sangat menyenangkan dan bukan sesuatu yang sulit. Kuncinya adalah tekad dan disiplin.
Apakah Anda ingin menjadi sukses dan kaya secara luar dalam? Kalau ya, bulatkan tekad dan disiplin Anda untuk mempraktekkan meditasi dan membaca paritta suci. Tekad diartikan keinginan yang kuat untuk berhasil; untuk berani, berani menderita dan kerja keras. Disiplin artinya, secara rutin dan terus menerus mempraktekkan teknik mengolah pikiran. Lalu, bagaimanakah teknik mengolah pikiran yang baik dan tepat agar dapat menunjang kesuksesan kita? Di sini ada 2 teknik yang perlu di praktekkan :
Teknik Memperhatikan Obyek Nafas Selama meditasi, fokuskan pikiran kepada nafas yang keluar dan masuk melalui hidung. Menyadari nafa masuk–menyadari nafas keluar terus dijaga fokus konsentrasi, meditasi dilakukan minimal 15 menit setiap hari, tujuannya apa ? Untuk mempertajam konsentrasi pikiran dan ketenangan pikiran.Apabila pikiran dan pikiran maka setiap tindakan bisnis dan usaha kita akan lebih terarah dan terukur, sehingga peluang untuk timbulnya kesalahan lebih kecil dengan demikian peluang keberhasilan jauh lebih tinggi.
Lakukan meditasi ini dengan hati yang tenang, tanpa paksaan dan perasaan yang lepas, teknik ini sangat menyenangkan dan membuat Anda sudah merasakan sukses dan berhasil, walau dalam kenyataaanya belum.
Tehknik Mengolah Pikiran Positif.
Setelah 15 menit meditasi nafas, sekarang tiba saat nya untuk melatih pikiran Anda dengan pikiran positif. Fokuskan pikiran kepada kata-kata “Sukses” di setiap tarikan nafas kita. Perhatikan lah di setiap kita menghirup udara masuk ke dalam paru-paru, ucapkanlah “Suk” dalam hati dan di setiap menghembuskannya atau pada saat dikeluarkan dari paru-paru ucapkanlah “Ses”, demikianlah seterusnya. Untuk mereka yang sering berpikiran negatif dan rendah diri, bias mengganti mantra “Sukses” ini dengan mantra “Bisa”, sama seperti diatas, ucapkanlah “Bi” pada saat kita menarik dan “Sa” pada saat mengeluarkannya. Untuk mereka yang merasa selalu dirundung malang dan penderitaan, dapat pula melakukan hal diatas dan menganti mantranya dengan “Hokki” dengan mengucapkan dalam hati “Hok” pada saat menarik nafas, dan “Ki” pada saat menghembuskan nafas. Mantra ini bukan mantra sembarangan, tetapi mantra yang dapat merubah pola pikiran kita, dari pola pikiran miskin menjadi kaya, lalu gagal menjadi sukses, tidak beruntung menjadi beruntung. Dalam penelitian, para ahli mengatakan, sesuatu sugesti atau suatu kebiasaan yang dilaukan berulang-ulang, dengan tekun dan sering, maka di dalam pikiran bawah sadar kita akan tercetak jelas pikiran yang menjadi kebiasaan kita.
Contohnya: Mereka yang selalu mempunyai pola pikir yang pesimis, maka apa yang mereka lakukan cenderung akan gagal. Contoh lain misalnya, dalam pikiran kita mensugestikan rumah ini ada “hantu”, maka kita akan menjadi ketakutan sendiri, mengapa demikian? Karena pikiran adalah pusat dari seluruh kegiatan, pikiran akan merangsang panca indra yang lain untuk turut merasakan adanya kondisi kehadiran “hantu”. Daun pintu berbunyisedikit saa, kita sudah merinding ketakutan, suara jalannya tikus yang kecil, menjadi suara besar, seolah-olah ada langkah manusia. Sugesti-sugesti seperti inilah yang membuat seluruh metabolisme (reaksi ) tubuh mengikuti pikiran kita. Karenanya bagi mereka yang ingin sukses, tetapi mempunyai masalah dengan sifat-sifat negatif atas pikiran-pikiran mereka, atausifat-sifat yang tidak menunjang untuk sukses, sangatlah berguna apabila melakukan meditasi sejenis ini, karena dalam alam bawah sadar akan tercetak motivasi untuk berhasil. Setelah melakukan meditasi semacam ini ± 3 bulan, sudah pasti akan mulai terlihat hasilnya, mereka yang cenderung pesimis akan berubah menjadi optimis, mereka yang cenderung negatif akan berubah menjadi positif, mereka yang bermalas-malasan dapat berubah menjadi rajin,mereka yang takut akan berubah menjadi berani.Perubahan-perubahan tersebut adalah merupakan suatu modal dasar bagi kita
untuk menuju keberhasilan.

~LANGKAH VII~
FAKTOR LINGKUNGAN
PERKUAT BENTENG DARI SERANGAN
LUAR

Faktor lingkungan merupakan salah satu faktor penting untuk menjaga agar kesuksesan kita dapat berkembang dan bertahan. Berdasarkan pengalaman, sebenarnya banyak orang yang berpotensi kaya materi dan spiritual, namun karena pengaruh faktor lingkungan, maka potensi diri mereka menjadi sia-sia, tidak optimal dan bahkan cenderung merugikan mereka. Anak-anak yang berbakat apabila bergaul dalam lingkungan anak-anak pemalas, cenderung menjadi pemalas. Mereka yang tidak merokok apabila berada dalam pergaulan orang-orang yang merokok, cenderung mengikuti kebiasaan kelompoknya. Demikian juga mereka yang ingin sukses, harus mencari lingkungan yang mendukung langkah-langkah sukses mereka. Ibu Meng Ze (Mencius), sampai harus pindah rumah 3 kali, karena hendak mencari lingkungan yang cocok untuk anaknya berkembang. Akhirnya Meng Ze di kenal sebagai salah satu ahli
filsafat (filsuf) yang paling terkenal di Tiongkok.
Bergaul lah dengan mereka yang mempunyai :
a. Wawasan yang maju
b. Berdisiplin Tinggi
c. Rajin dan Bersemangat
d. Menghargai Kebaikan dan Menghindari Kejahatan
e. Kebijaksanaan Seimbang atau lebih
Hyang Buddha menekankan pentingnya pergaulan ini dalam memperngaruhi kemajuan batin seseorang. Beliau bersabda : “Apabila ia dalam pengembaraan (hidup reinkarnasi) seseorang tidak menemukan sahabat yang lebih baik atau sebanding dengan dirinya, maka hendaklah ia tetap melanjutkan pengembaraannya seorang diri, janganlah bergaul dengan orang bodoh (sesat).”
Hyang Buddha mengingatkan kita : “Saya tidak melihat adanya satu pun sebab luar lain yang dapat menimbulkan kemajuan sebesar menyamai pergaulan dengan orang bijak.” Mereka yang hendak sukses harus memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Jauhkanlah kegiatan yang menghabiskan waktu tanpa tujuan yang kurang jelas, misalnya suka bergosip. Waktu luang hendaknya dipergunakan dengan bijaksana. Dengan demikian kesuksesan Anda akan terhindar dari serangan luar yang menghambat atau bahkan mematikan masa depan Anda. Ingatlah : di luar sana adalah dunia yang kejam. Sedikit orang yang senang melihat Anda sukses. Karenanya berhati-hatilah bergaul.
~PENUTUP~
RENCANAKAN DAN BERTINDAKLAH

Setelah memahami 7 langkah menuju kaya materi dan kaya dharma, sekarang saatnya bertindak. Segala sesuatu yang dapat kita laksanakan, laksanakanlah! Jangan ditunda-tunda. Kehidupan ini seperti buih sabun, waktu sangat cepat berlalu. Kita harus bias menghargai, bahwa kehidupan yang kita peroleh sekarang merupakan kesempatan yang sangat langka dan tak ternilai. Untuk terlahir sebagai manusia, sungguhlah sulit sekali, apalagi terlahir dalam keadaan sehat phisik dan mental, dan terlahir dalam jaman keemasan Dharma, dan sarana untuk mempraktekkan Dharma. Sungguh keadaan yang tak ternilai, bahkan seluruh intanpermata, dunia ini tidak dapat menyamai nilai kehidupan manusia. Pada saat sekarang ini kalau kita tidak memanfaatkannya sungguh sangat sayang dan sia-sia. Rencanakanlah masa depanmu dengan baik, terutama kepada pemuda pemudi yang sedang meniti pendidikan. Sejak awal harus mempersiapkan diri dengan berbagai keterampilan untuk mendukung rencana masa depannya. Apabila Anda bercita-cita menjadi dokter, maka persiapkanlah, dirimu dengan belajar yang baik. Buatlah rencana dan laksanakanlah. Yang harus Anda
perhatikan adalah :
Anda harus menyelesaikan SMU dengan nilai mata pelajaran
yang baik sekali, agar dapat di terima di jurusan kedokteran.
a. Kuasailah bahasa Inggris dengan lancar
b. Perkuatlah bidang yang berkaitan dengan jurusan
kedokteran, yaitu : biologi, matematika, dan hafalan.
Apabila anak tidak mampu secara financial, jangan putus asa,
berdoalah kepada junjunganmu, mohonlah dengan tulus dan
sungguh-sungguh. Mengusahakan beasiswa atau bekerja dengan
paruh waktu. Asal tekadmu bulat semuanya pasti dapat terwujud.

Laksanakanlah 7 langkah dalam buku ini untuk menjadi sukses karir
dan Dharma.
Apabila Anda seorang wiraswasta, rencanakanlah usahamu
dengan baik. Buatlah rencana-rencana berikut ini :
a. Perhatikan usaha apa yang menurut Anda cocok dengan
Anda. Usaha dapat dimulai dari skala kecil dahulu.
b. Perhatikan dan catatlah kelebihan dan kekurangan usaha kita. Perbaiki kekurangan, perkuat kelebihan.
c. Pelayanan dan kejujuran sangat penting.
d. Berdoalah kepada junjunganmu dengan tulus
Laksanakanlah 7 langkah dalam buku ini, Anda akan sukses dalam usaha dan Dharma.
Perhatikanlah beberapa sikap dan perilaku yang menunjang
untuk menjadi sukses dan kaya :
a. Bersikaplah optimis bukan pesimis
b. Bersikaplah proaktif bukan pasif
c. Bersikaplah menghargai setiap hidup dan pekerjaan Anda bukan menyalahkan diri Anda dan berkeluh kesah
d. Berpikir positif atas semua kejadian bukan negatif
e. Bersikap terbuka, bukan tertutup
f. Bersikap mandiri, tidak lemah dan jangan cengeng
Saya teringat ketika saya tamat SMA, saat akan berangkat ke Jakarta, itulah saat pertama saya melihat pesawat terbang. Hanya dengan sedikit uang tetapi banyak tekad dan harapan. Saya menginjakkan kaki di kota metropolitan Jakarta, ibukota yang lebih kejam dari ibu tiri. Agar dapat menghemat biaya, saya belajar keras untuk lulus di Universitas Indonesia, dan berhasil. Untuk memenuhi kebutuhan hidup saya memberikan les anak-anak sekolah, menjual kain sprei dan melakukan pekerjaan yang dapat mendatangkan uang halal.

Pada saat menulis buku ini, saya sudah 23 tahun berada di Jakarta. Waktu yang begitu cepat berlalu tanpa terasa, apa yang saya miliki saat ini adalah merupakan perjalanan hidup yang amat menarik. Perjalanan hidup itulah yang saya tuangkan dalam 7langkah menuju Kaya Duniawi dan Kaya Dharma. Dan apa yang bernilai dalam perjalanan hidup saya ? Bukan intan permata, bukan kekuasaan, bukan kekayaan, tetapi kesempatan bagi saya untuk mengenal Dharma, belajar Dharma, mempraktekkan Dharma, memasuki arus Dharma, dan bersumpah memasuki jalan Bodhisattva.

Saya mengajak para pembaca yang berbahagia, bangkitlah!
Hidup Anda sungguh berharga, setiap perjuangan pasti akan membawa hasil. Saya hanya dapat membuka jalan dan mendoakan
keberhasilanmu, selanjutnya terserah Anda!
“ Selamat berjuang saudara-saudaraku, Anda pasti bisa!”

~BIOGRAFI~
Penulis adalah seorang umat perumah–tangga yang lahir di Pematang-
Siantar, Sumatera Utara pada tahun 1964. Menamatkan kuliah di Falkutas
Hukum Universitas Indonesia pada tahun 1987, kemudian meraih Sarjana
Ekonomi pada Universitas yang sama pada tahun 1992 dan berselang dua tahun
kemudian menamatkan spesialis Pendidikan Notariat Universitas Indonesia.
Tahun 2003 meraih gelar Magister Hukum.
Saat ini beliau adalah seorang Notaris dan P.P.A.T. di Jakarta dan aktif
dalam dunia pendidikan di mana beliau tercatat sebagai ketua Pengelola
Program Pasca Sarjana Ilmu Hukum di Jakarta, bekerja sama dengan Universitas
Padjadjaran Bandung.
Beliau dalam kehidupan sehari-hari telah banyak mengalami hal-hal yang
berkesan tentang Dharma. Sebagai ketua Yayasan Dhammadasa, beliau beserta
teman-teman seperjuangan dalam Dharma bertekad menyebarkan Dharma ke
seluruh pelosok tanah air. Di samping itu beliau adalah Ketua Panitia Seminar
Nasional Buddhis Indonesia.
Beliau menyadari untuk menyebarkan Dharma, buah pikiran perlu di
tuangkan dalam bentuk tulisan yang mudah dicerna dan dipahami oleh umat
awam. Di sela-sela kesibukannya, beliau sangat aktif menulis buku-buku
Dharma yang sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari, di antaranya :
- Panutan Hidup ( Sehat dan Bahagia )
- Bakti ( Sutra dan Essensinya )
- Mencapai Kekayaan Duniawi
- Menciptakan Surga di Dunia
- Keyakinan, Kunci Sukses Dalam Menempuh Kehidupan
- Kita adalah Majikan Diri Sendiri
- 10 Hari dengan Meditasi Vippasanna
- 1 MENIT Yang Mengubah Hidupa Anda.
Dan buku-buku Dharma ini dapat di peroleh secara cuma- cuma, dan
disebarkan ke seluruh tanah air.


Langkah Dhamma Menjadi Benar-benar KayaPenulis : Buntario Tigris, S.H., S.E., M.H.Transcript : Felix ThiorisEditor : Hedi KasmantoCover & Lay Out : Hedi Kasmanto

Empat Kusunyataan Mulia


Diantara semua jalan, jalan beruas delapanlah yang terbaik. Diantara semua kebenaran, empat kesunyataan mulialah yang terbaik. Bebas dari segala nafsu adalah yang terbaik. Dan diantara semua makhluk hidup, orang yang telah 'melihat’ adalah yang terbaik. Dhammapada 273
Dhammacakkappavattana Sutta adalah khotbah pertama yang Sang Buddha ajarkan. Khotbah pertama itu dibabarkan di Saranath, di Taman Rusa, kepada lima orang petapa yang sebelumnya pernah menjadi sahabatnya dalam mencari kebebasan. Beliau menunjukan untuk mempraktekan jalan tengah, menghindari kesenangan duniawi yang berlebih-lebihan dan kehidupan tapa yang menyiksa diri. Menganut salah satu dari dua eksrim ini tidak akan membawa kebebasan batin. Beliau kemudian melanjutkan dengan menjelaskan tentang kebenaran yang sesungguhnya dari segala sesuatu dan bagaimana seseorang dapat menyadarinya atau dengan istilah beliau memutar Roda kebenaran dengan cara Empat kesunyataan Mulia yaitu:
Kesunyataan Mulia tentang Dukkha.
Sang Buddha mengajarkan bahwa kita hidup didunia ini sebenarnya adalah penderitaan, perjuangan untuk mempertahankan diri adalah menyakitkan, Sang Buddha menggunakan kata”Dukkha” yang umumnya diartikan dengan Penderitaan atau ketidak puasaan. Berkumpul dengan orang yang tidak disenangi adalah penderitaam, berpisah dengan seseorang yang dicintai adalah penderitaan, kelahiran,usia tua, sakit, kematian, pertumbuhan dan kehancuran adalah penderitaan. Kita semua pasti mengalami hal hal seperti itu. Oleh karena itu penderitaan adalah umum bagi semua mahluk hidup didunia ini.
Kesunyataan Mulia tentang sebabnya Dukkha.
Sang Buddha memakai pendekatan logis dalam masalah ini. Setelah memperkenalkan masalah dukkha, beliau melanjutkan tentang apa yang menjadi penyebabnya atau lebih lanjut dirinci dalam Paticcasamuppada (Hukum sebab akibat yang saling bergantungan). Tiga bentuk kemelekatan (tanha) yang menghasilkan Dukkha adalah: Kama tanha (ketagihan kesenangan indria) Bhava tanha (keinginan akan penjelmaan)
Vibhava tanha(keinginan akan pemusatan diri sendiri). Karena ketidak tahuan, kita melekat pada hal-hal yang sesungguhnya tidak kekal, kita tertipu oleh perasaan cinta dan enggan, suka dan tidak suka, dsb. Bila kita tidak tahu akan sebab penderitaan, kita akan lebih terjerat dan tengelam dalam kemelekatan dan keengganan.
Kesunyatan Mulia tentang lenyapnya Dukkha
Untuk memahaminya seseorang harus mengerti tiga kondisi kehidupan (Tilakkhana) yakni Anicca (ketidak kekalan), Dukkha(ketidak puasan) dan Anatta (tanpa inti yang kekal). Segala sesuatu yang berkondisi adalah tidak kekal dan tidak ada sesuatu kekal yang disebut diri. Bila kita menyadari segala sesuatu bersifat sementara, kita tidak akan melekat padanya.
Kesunyatan Mulia tentang jalan menuju lenyapnya Dukkha
Ajaran Sang Buddha tidak akan berguna bila tidak menemukan metode dan cara mencapai akhir dari dukkha yaitu Nibbana. Metodenya adalah yang dikenal dengan “Jalan Utama Beruas Delapan”. Terdiri dari apakah jalan yang tidak berlandaskan pada hal ektrim itu; ini berdasarkan pada “Majjhimapatipada-jalan tengah” yaitu: Pertama, Pandangan Benar berarti mengerti dan mengetahui kesunyatan mulia tentang dukkha dan memahami sesuatu berdasarkan keadaan sesungguhnya. Kedua, Pikiran Benar berarti berpikir tentang segala sesuatu yang dapat mempertinggi kehidupan kita, dengan menambah perbuatan baik. Ketiga, Ucapan Benar berarti seseorang hendaknya tidak berbohong, menggunjing orang lain, atau mengucapkan kata-kata yang buruk/kasar. Keempat, Perbuatan Benar berarti apapun yang kita lakukan akan selalu diikuti oleh kamma vipaka maka dari itu kita harus selalu melakukan perbuatan baik dan menghindari perbuatan buruk. Kelima, Penghidupan Benar berarti kita dalam menjalankan kehidupan tidak dengan menjual racun, narkoba, minuman, keras,judi, senjata, tidak menjual binatang yg masih hidup dan segala bentuk perbudakan. Keenam, Usaha Benar berarti hidup tidak ada gunanya bila seseorang tidak ada usaha untuk meraih hal-hal yang baik. Oleh karena itu untuk mempraktekan hal tersebut merupakan satu satunya jalan untuk menyelami kebenaran Dhamma. Ketujuh, Kesadaran Benar berarti seseorang harus menyadari mana yang baik dan mana yang buruk, tanpa menyadari hal itu tidak akan mencapai ketenangan batin dan kebijaksanaan. Kedelapan, Samadhi Benar berarti keadaan pikiran yang terpusat pada satu titik atau pikiran yang tidak lari kesana-kemari. Samadhi itu seperti halnya pisau dapat dipakai untuk hal baik ataupun buruk, maka seseorang harus menjaga kesadarannya dengan cara samadhi sehingga membawa hasil yang kita inginkan.
Sutta ini merupakan sutta yang paling penting dalam agama Buddha dan mudah dimengerti dan dipraktekan .
Semoga semua mahluk hidup berbahagia,……. sadhu,sadhu,sadhu

Hukum Karma


"Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan, oleh diri sendiri pula orang ternoda, oleh diri sendiri kejahatan tak dilakukan, oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci. Suci atau tidak sucinya seseorang tergantung pada diri sendiri; tak ada seseorang pun yang dapat menyucikan orang lain" (Dhammapada; 165) Pengikut Buddha meyakini adanya hukum karma. "Sesuai dengan benih yang ditabur , begitulah buah yang akan diperoleh darinya. Ia yang berbuat baik akan mendapatkan buah kebaikan. Ia yang berbuat jahat memperoleh buah kejahatan. Tertaburlah benih itu dan tertanam baik, engkau akan menikmati buah daripadanya "(Samyuta Nikaya XI,2.1:227). Sebagaimana halnya menanam, dari benih jagung, buah yang akan dipetik pun jagung, bukan padi atau lainnya. Sebab karma mengandung hubungan sebab akibat, orang melihatnya sebagai hukum pembalasan. Lalu bilamana diartikan pada utang wajib untuk dibayar. Maka muncul pula ungkapan "tiada ampun bagimu". Namun karma tidaklah sesederhana itu. Dalam aspek moral, karma berupa perbuatan, harus berhubungan dengan kehendak. Kehendak itu sendiri adalah karma. "Kehendak itulah yang Kusebut karma. Setelah timbul kehendak dalam batinnya, seorang melakukan perbuatan melalui jasmani, ucapan dan pikiran," demikia dinyatakan oleh Buddha. Karma dibedakan atas karma baik (kusalakarma) yang berakibat baik, dan karma buruk (akusalakarma) yang akan berakibat buruk, karma baik maupun karma buruk akan menimbulkan akibat, karma yang bukan baik dan bukan buruk tidak berakibat atau yang sering diartikan sebagai ahosi karma. Karma baik atau buruk terbagi - bagi lagi menurut penggolongan waktu, kekuatan dan fungsinya. Setiap karma memiliki waktu tertentu untuk matang , ada yang menghasilkan buah lebih cepat, ada yang lambat. Ada bermacam - macam karma yang akibatnya akan berhubungan lebih dari satu kehidupan. Ada karma yang mencegah munculnya akibat dari suatu karma tertentu. Mekanisme bermacam - macam karma memungkinkan pengakhiran karma. Pengakhiran karma ini menunjukan adanya pembebasan, namun bukan berarti penghapusan atau sering disebut sebagai pengampunan. Dalam pemikiran Buddha tidak dikenal istilah pengampunan, yang sering digunakan adalah sejauh mana karma baik maupun buruk yang telah diperbuah dalam kehidupan nyata. Bila mana kecenderungannya adalah karma baik, atau karma baik lebih mendominasi dalam kehidupannya, maka karma buruknya terkesan tidak menimbulkan akibat. Untuk memberi gambaran yang lebih mudah dapat diilustrasikan sebagai berikut: Satu sendok garam dicampur dengan segelas air akan lebih terasa asin, namun bila satu sendok garam dicampur dengan satu drum air maka rasa asinnya akan berkurang bahkan mungkin tidak terasa asin. Buddha juga telah mengemukakan sejumlah perumpamaan misalnya: Andai garam dimasukan kedalam semangkuk kecil air maka air yang tidak sebeerapa banyaknya itu menjadi asin dan tak terminum. Namun bilamana garam itu dimasukan kedalam sungai gangga, akankah air sungai itu menjadi asin sehingga tak dapat diminum? Perumpamaan-perumpamaan seperti itu sering disampaikan oleh Buddha agar lebih mudah dimengerti oleh para pengikutnya. Demikian juga dengan perumpamaan seperti ini: "Andai ada orang yang disalahkan Karena tidak membayar utang satu bahkan kapahana, atau mencuri barang seratus rupee, ia dihukum masuk penjara. Tetapi ada pula orang yang tidak sampai masuk penjara walau dia mencuri kambing lalu dianiaya bahkan dibunuh oleh pemiliknya. Tetapi ada orang lain dengan kesalahan yang sama, diperlakukan berbeda. Ini menunjukan bahwa karma seseorang berbeda-beda. Katakanlah orang yang bersalah atau pencuri itu datang dari keluarga kaya, mungkin pula penguasa. Bila saja ia tertangkap tetapi tidak dianiaya. Ia sebenarnya harus dipahami bahwa ia tidaklah lepas dari pertanggung-jawaban. Ia bisa bebas karena keseganan orang padanya, ia memiliki suatu hal lain untuk dijadikan jaminan atau penebusan sehingga nasibnya berbeda dari yang kecil atau lemah. Suatu kesalahan yang kecil dapat membawa orang tertetu ke neraka. Kesalahan serupa pada orang lain dengan kualitas berbeda, missal dalam hal potensi dan kompensasi yang dimilikiya, memberi akibat yang lain. Karena itu Buddha menganjurkan setiap orang pada segala kesempatan agar melatih kehidupan bersusila, melatih samadi, dan mengembangkan kebijaksanaan. Ia yang tidak mengembangkan kemampuan lahir dan batin, tidak memiliki simpanan jasa dan potensi mencegah timbulnya karma buruk, hidupnya tidak berarti, jiwanya kredil, sehingga mudah tergelincir dalam penderitaan." (Angutara Nikaya II,10:99) Hukum karma merupakan hukum kosmis tentang sebab dan akibat yang sekaligus pula merupakan hukum moral yang impersonal. Kemahakuasaan dan keadilan Tuhan dilihat dari hukum universal ini. Yang maha Pengasih tanpa diminta pun akan senantiasa mengasihani. Tetapi hukum karma tetap menuntut setiap pelaku untuk mempertangungjawabkannya. Dengan memahami hukum karma Buddhis, maka terdorong untuk senantiasa aktif melakukan kebajikan, bukan pasrah tanpa berbuat sesuatu apa pun.**

video mengenai perjalanan sang Buddha



Riwayat sang Buddha


“Buddha Gautama”merupakan tokoh yang diangkat dalam aliran filsafat timur. Yang nama aslinya bernama Siddharta Gautama, yang kemudian menjadi sang Buddha (secara harafiah: orang yang telah mencapai Penerangan Sempurna). Dia juga dikenal sebagai Shakyamuni atau Sakyamuni yang berarti “orang bijak dari kaum Sakya”dan sebagai sang Tathagata (www.wikipedia.org/wiki/Siddharta_Gautama).

1. Riwayat Hidup Siddharta Gautama
Siddharta Gautama adalah seorang pangeran, Pangeran Siddharta dilahirkan pada tahun 623 SM di Taman Lumbini. Ayah dari Pangeran Siddharta adalah Sri Baginda Raja Suddhodana dari Suku Sakya dan ibunya adalah Sri Ratu Mahä Mäyä Dewi. Ibunda Ratu meninggal dunia tujuh hari setelah melahirkan Sang Pangeran. Setelah meninggal, beliau terlahir di alam Tusita, yaitu alam sorga luhur. Sejak itu maka yang merawat Pangeran Siddharta adalah Mahä Pajäpati, bibinya yang juga menjadi isteri Raja Suddhodana.
Oleh para pertapa di bawah pimpinan Asita Kaladewala diramalkan bahwa Pangeran Siddharta kelak akan menjadi Maharaja Diraja atau akan menjadi Seorang Buddha. Hanya pertapa Kondañña yang dengan pasti meramalkan bahwa Sang Pangeran kelak akan menjadi Buddha. Mendengar ramalan tersebut Sri Baginda menjadi cemas, karena apabila Sang Pangeran menjadi Buddha, tidak ada yang akan mewarisi tahta kerajaannya. Oleh pertanyaan Sang Raja, para pertapa itu menjelaskan agar Sang Pangeran jangan sampai melihat empat macam peristiwa, atau ia akan menjadi pertapa dan menjadi Buddha, empat macam peristiwa tersebut adalah:
a. orang tua
b. orang sakit
c. orang mati,
d. dan seorang pertapa.

2. Masa Kecil
Sejak kecil sudah terlihat bahwa Sang Pangeran adalah seorang anak yang cerdas dan sangat pandai, selalu dilayani oleh pelayan-pelayan dan dayang-dayang yang masih muda dan cantik rupawan di istana yang megah dan indah. Dalam usia 16 tahun Pangeran Siddharta menikah dengan Puteri Yasodhara yang dipersuntingnya setelah memenangkan berbagai sayembara. Ternyata akhirnya Sang Pangeran melihat empat peristiwa yang selalu diusahakan agar tidak berada di dalam penglihatannya, setelah itu Pangeran Siddharta tampak murung dan kecewa melihat kenyataan hidup yang penuh dengan derita ini. Dalam Usia 7 tahun Pangeran Siddharta telah mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Tetapi Pangeran Siddharta kurang berminat dengan pelajaran tersebut. Pangeran Siddharta mendiami tiga istana, yaitu istana musim semi, musim hujan dan pancaroba.

3. Masa Dewasa
Ketika beliau berusia 29 tahun, putera pertamanya lahir dan diberi nama Rahula. Setelah itu Pangeran Siddharta meninggalkan istana, keluarga, kemewahan, untuk pergi berguru mencari ilmu sejati yang dapat membebaskan manusia dari usia tua, sakit dan mati. Pertapa Siddharta berguru kepada Alära Käläma dan kemudian kepada Uddaka Ramäputra, tetapi tidak merasa puas karena tidak memperoleh yang diharapkannya. Kemudian beliau bertapa menyiksa diri dengan ditemani lima orang pertapa. Akhirnya beliau juga meninggalkan cara yang ekstrim itu dan bermeditasi di bawah pohon Bodhi untuk mendapatkan Penerangan Agung.
Kata-kata pertapa Asita membuat Baginda tidak tenang siang dan malam, karena khawatir kalau putra tunggalnya akan meninggalkan istana dan menjadi pertapa, mengembara tanpa tempat tinggal. Untuk itu Baginda memilih banyak pelayan untuk merawat Pangeran Siddharta, agar putra tunggalnya menikmati hidup keduniawian. Segala bentuk penderitaan berusaha disingkirkan dari kehidupan Pangeran Siddharta, seperti sakit, umur tua, dan kematian. Sehingga Pangeran hanya mengetahui kenikmatan duniawi.
Suatu hari Pangeran Siddharta meminta ijin untuk berjalan di luar istana, dimana pada kesempatan yang berbeda dilihatnya Empat Kondisi yang sangat berarti, yaitu orang tua, orang sakit, orang mati dan orang suci. Sehingga Pangeran Siddharta bersedih dan menanyakan kepada dirinya sendiri. “Apa arti kehidupan ini, kalau semuanya akan menderita sakit, umur tua dan kematian. Lebih-lebih mereka yang minta pertolongan kepada orang yang tidak mengerti, yang sama-sama tidak tahu dan terikat dengan segala sesuatu yang sifatnya sementara ini”. Pangeran Siddharta berpikir bahwa hanya kehidupan suci yang akan memberikan semua jawaban tersebut. Selama 10 tahun lamanya Pangeran Siddharta hidup dalam kesenangan duniawi.
Pergolakan batin Pangeran Siddharta berjalan terus sampai berusia 29 tahun, tepat pada saat putra tunggalnya Rahula lahir. Pada suatu malam, Pangeran Siddharta memutuskan untuk meninggalkan istananya dan dengan ditemani oleh kusirnya Canna. Tekadnya telah bulat untuk melakukan Pelepasan Agung dengan menjalani hidup sebagai pertapa. Didalam pengembaraannya, pertapa Gautama mempelajari latihan pertapaan dari pertapa Bhagava dan kemudian memperdalam cara bertapa dari dua pertapa lainnya, yaitu pertapa Alara Kalama dan pertapa Udraka Ramputra. Namun setelah mempelajari cara bertapa dari kedua gurunya tersebut, tetap belum ditemukan jawaban yang diinginkannya . Sehingga sadarlah pertapa Gautama bahwa dengan cara bertapa seperti itu tidak akan mencapai Pencerahan Sempurna.
Kemudian pertapa Gautama meninggalkan kedua gurunya dan pergi ke Magada untuk melaksanakan bertapa menyiksa diri di hutan Uruwela, di tepi sungai Nairanjana yang mengalir dekat hutan Gaya. Walaupun telah melakukan bertapa menyiksa diri selama enam tahun di hutan Uruwela, tetap pertapa Gautama belum juga dapat memahami hakekat dan tujuan dari hasil pertapaan yang dilakukan tersebut. Pada suatu hari pertapa Gautama dalam pertapaannya mendengar seorang tua sedang menasehati anaknya di atas perahu yang melintasi sungai Nairanjana dengan mengatakan. “Bila senar kecapi ini dikencangkan, suaranya akan semakin tinggi. Kalau terlalu dikencangkan, putuslah senar kecapi ini, dan lenyaplah suara kecapi itu. Bila senar kecapi ini dikendorkan, suaranya akan semakin merendah. Kalau terlalu dikendorkan, maka lenyaplah suara kecapi itu”.
Nasehat tersebut sangat berarti bagi pertapa Gautama yang akhirnya memutuskan untuk menghentikan tapanya lalu pergi ke sungai untuk mandi. Badannya yang telah tinggal tulang hampir tidak sanggup untuk menopang tubuh pertapa Gautama. Seorang wanita bernama Sujata memberi pertapa Gautama semangkuk susu. Badannya dirasakannya sangat lemah dan maut hampir saja merenggut jiwanya, namun dengan kemauan yang keras membaja, pertapa Gautama melanjutkan samadhinya di bawah pohon Bodhi (Asetta) di hutan Gaya, sambil berprasetya, “Meskipun darahku mengering, dagingku membusuk, tulang belulang jatuh berserakan , tetapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku mencapai Pencerahan Sempurna”. Perasaan bimbang dan ragu melanda diri pertapa Gautama, hampir saja Beliau putus asa menghadapi godaan Mara, setan penggoda yang dahsyat itu. Dengan kemauan yang keras membaja dan dengan iman yang teguh kukuh, akhirnya godaan Mara dapat dilawan dan ditaklukkannya. Hal ini terjadi ketika bintang pagi memperlihatkan dirinya di ufuk timur.
Sekarang pertapa Gautama menjadi terang dan jernih, secerah sinar fajar yang menyingsing di ufuk timur. Pertapa Gautama telah mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Samyaksam-Buddha (Sammasam-Buddha), tepat pada saat bulan Purnama Raya di bulan Waisak ketika Beliau berusia 35 tahun (menurut versi Buddhisme Mahayana, 531 SM pada hari ke-8 bulan ke-12, menurut kalender Lunar. Versi WFB, pada bulan Mei tahun 588 SM). Pada saat mencapai Pencerahan Sempurna, dari tubuh Beliau memancarkan enam sinar Buddha [Buddharasmi] dengan warna warni Biru yang berarti bhakti, Kuning mengandung arti kebijaksanaan dan pengetahuan, Merah yang berarti kasih sayang dan welas-asih; Putih mengandung arti suci, Jingga berarti giat, dan campuran ke-lima sinar tersebut.

4. Penyebaran ajaran Buddha
Setelah mencapai Pencerahan Sempurna, pertapa Gautama mendapat gelar kesempurnaan yang antara lain : Buddha Gautama, Buddha Shakyamuni, Tathagata “Ia Yang Telah Datang, Ia Yang Telah Pergi”, Sugata “Yang Maha Tahu”, Bhagava “Yang Agung” dan sebagainya. Lima pertapa yang mendampingi Beliau di hutan Uruwela merupakan murid pertama Sang Buddha yang mendengarkan khotbah pertama (Dharmacakra Pravartana/Dhammacakka Pavattana), dimana Beliau menjelaskan mengenai Jalan Tengah yang ditemukanNya, yaitu Delapan Ruas Jalan Kemuliaan termasuk awal khotbahNya yang menjelaskan Empat Kebenaran Mulia.
Buddha Gautama berkelana menyebarkan Dharma selama empat puluh lima tahun lamanya kepada umat manusia dengan penuh cinta kasih dan kasih sayang, hingga akhirnya mencapai usia 80 tahun, dimana Beliau mengetahui bahwa tiga bulan lagi Beliau akan Parinibbana.
Sang Buddha dalam keadaan sakit terbaring di antara dua pohon Sala di Kusinagara, memberikan khotbah Dharma terakhir kepada siswa-siswaNya, lalu Parinibbana (versi Buddhisme Mahayana, 486 SM pada hari ke-15 bulan ke-2 kalender Lunar. Versi WFB pada bulan Mei, 543 SM). Khotbah Buddha Gautama terakhir mengandung arti yang sangat dalam bagi siswa-siswaNya, yang antara lain :
a. Percaya pada diri sendiri dalam mengembangkan Ajaran Sang Buddha.
b. Jadikanlah Ajaran Sang Buddha (Dharma) sebagai pencerahan hidup.
c. Segala sesuatu tidak ada yang kekal abadi.
d. Tujuan dari Ajaran Sang Buddha (Dharma) ialah untuk mengendalikan pikiran.
e. Pikiran dapat menjadikan seseorang menjadi Buddha, namun pikiran dapat pula menjadikan seseorang menjadi binatang.
f. Hendaknya saling menghormati satu dengan yang lain dan dapat menghindarkan diri dari segala macam perselisihan.
g. Bilamana melalaikan Ajaran Sang Buddha, dapat berarti belum pernah berjumpa dengan Sang Buddha.
h. Mara (setan) dan keinginan nafsu duniawi senantiasa mencari kesempatan untuk menipu umat manusia.
i. Kematian hanyalah musnahnya badan jasmani.
j. Buddha yang sejati bukan badan jasmani manusia, tetapi Pencerahan Sempurna.
k. Kebijaksanaan Sempurna yang lahir dari Pencerahan Sempurna akan hidup selamanya di dalam Kebenaran.
l. Hanya mereka yang mengerti, yang menghayati dan mengamalkan Dharma yang akan melihat Sang Buddha.
m. Ajaran yang diberikan oleh Sang Buddha tidak ada yang dirahasiakan, ditutup-tutupi ataupun diselubungi.
Sang Buddha bersabda, “Dengarkan baik baik, wahai para bhikkhu, Aku sampaikan padamu: Akan membusuklah semua benda benda yang terbentuk, berjuanglah dengan penuh kesadaran”.

5. Sifat Agung Sang Buddha
Seorang Buddha memiliki sifat Cinta Kasih (maitri/metta) dan Kasih Sayang (karuna) yang diwujudkan oleh sabda Buddha Gautama, “Penderitaanmu adalah penderitaanku, dan kegembiraanmu adalah kegembiraanku”. Manusia adalah pancaran dari semangat Cinta Kasih dan Kasih Sayang yang dapat menuntunnya kepada Pencerahan Sempurna.
Cinta Kasih dan Kasih Sayang seorang Buddha tidak terbatas oleh waktu dan selalu abadi, dimana telah ada dan memancar sejak manusia pertama kalinya terlahir dalam lingkaran hidup roda samsara yang disebabkan oleh ketidaktahuan atau kebodohan-batinnya. Jalan untuk mencapai Kebuddhaan ialah dengan melenyapkan ketidaktahuan atau kebodohan batin yang dimiliki oleh manusia. Pada waktu Pangeran Siddharta meninggalkan kehidupan duniawi, Beliau telah mengikrarkan Empat Prasetya yang berdasarkan Cinta Kasih dan Kasih Sayang yang tidak terbatas, yaitu :
a. Berusaha menolong semua makhluk.
b. Menolak semua keinginan nafsu keduniawian.
c. Mempelajari, menghayati dan mengamalkan Dharma.
d. Berusaha mencapai Pencerahan Sempurna.
Buddha Gautama pertama melatih diri untuk melaksanakan amal kebajikan kepada semua makhluk dengan menghindarkan diri dari sepuluh tindakan yang diakibatkan oleh tubuh, ucapan dan pikiran, yaitu:
Ø Tubuh (kaya) : pembunuhan, pencurian, perbuatan jinah.
Ø Ucapan (vak) : penipuan, pembicaraan fitnah, pengucapan kasar, percakapan tiada manfaat.
Ø Pikiran (citta) : kemelekatan, niat buruk dan kepercayaan yang salah.
Cinta Kasih dan Kasih Sayang seorang Buddha adalah cinta kasih untuk kebahagiaan semua makhluk seperti orang tua mencintai anak-anaknya, dan mengharapkan berkah tertinggi terlimpah kepada mereka. Bagaikan hujan yang jatuh tanpa membeda-bedakan, demikianlah Cinta Kasih seorang Buddha. Akan tetapi terhadap mereka yang menderita sangat berat atau dalam keadaan batin gelap, Sang Buddha akan memberikan perhatian khusus. Dengan Kasih SayangNya, Sang Buddha menganjurkan supaya mereka berjalan di atas jalan yang benar dan mereka akan dibimbing dalam melawan kejahatan, hingga tercapai Pencerahan Sempurna. Sang Buddha adalah ayah dalam kasih sayang dan ibu dalam cinta kasih.
Sebagai Buddha yang abadi, Beliau telah mengenal semua orang dan dengan menggunakan berbagai cara Beliau telah berusaha untuk meringankan penderitaan semua makhluk. Buddha Gautama mengetahui sepenuhnya hakekat dunia, namun Beliau tidak pernah mau mengatakan bahwa dunia ini asli atau palsu, baik atau buruk. Beliau hanya menunjukkan tentang keadaan dunia sebagaimana adanya.
Buddha Gautama mengajarkan agar setiap orang memelihara akar kebijaksanaan sesuai dengan watak, perbuatan dan kepercayaan masing-masing. Beliau tidak saja mengajarkan melalui ucapan, akan tetapi juga melalui perbuatan. Meskipun bentuk fisik tubuhNya tidak ada akhirnya, namun dalam mengajar umat manusia yang mendambakan hidup abadi, Beliau menggunakan jalan pembebasan dari kelahiran dan kematian untuk membangunkan perhatian mereka. Seorang Buddha memiliki sifat luhur antara lain :
Ø Bertingkah laku baik;
Ø Berpandangan hidup luhur;
Ø Memiliki kebijaksanaan sempurna;
Ø Memiliki kepandaian mengajar yang tiada bandingnya;
Ø Memiliki cara menuntun dan membimbing manusia dalam mengamalkan Dharma.
Buddha Gautama memelihara semangatNya yang selalu tenang dan damai dengan melaksanakan meditasi. Sang Buddha membersihkan pikiran mereka dari kekotoran bathin dan menganugerahkan mereka kegembiraan dengan semangat tunggal yang sempurna. Jangkauan pikiran Sang Buddha melampaui jangkauan pikiran manusia biasa. Dengan kebijaksanaan yang sempurna, Buddha Gautama dapat menghindarkan diri dari sikap-sikap ekstrim dan prasangka, serta memiliki kesederhanaan. Oleh karena itu Beliau dapat mengetahui dan mengerti pikiran dan perasaan semua orang dan dapat melihat yang ada dan yang terjadi di dunia dalam sekejap, sehingga mendapatkan julukan seorang yang telah Mencapai Pencerahan Sempurna (Sammasam-Buddha) dan Yang Maha Tahu (Sugata).
Pengabdian Buddha Gautama telah membuat diri-Nya mampu mengatasi berbagai masalah didalam berbagai kesempatan yang pada hakekatnya adalah Dharma-kaya, yang merupakan keadaan sebenarnya dari hakekat yang hakiki dari seorang Buddha. Sang Buddha adalah pelambang dari kesucian, yang tersuci dari semua yang suci. Karena itu, Sang Buddha adalah Raja Dharma yang agung. Beliau dapat berkhotbah kepada semua orang, kapanpun dikehendakiNya. Sang Buddha mengkhotbahkan Dharma, akan tetapi sering terdapat telinga orang yang bodoh karena keserakahannya dan kebenciannya, tidak mau memperhatikan dan mendengarkan khotbahNya. Bagi mereka yang mendengarkan khotbahNya, yang dapat mengerti dan menghayati serta mengamalkan Sifat Agung Sang Buddha akan terbebas dari penderitaan hidup. Mereka tidak akan dapat tertolong hanya karena mengandalkan kepintarannya sendiri.
Buddha Gautama bersabda, “Hanya dengan jalan melalui kepercayaan, keyakinanlah, mereka akan dapat mengikuti ajaran-Ku. Karena itu setiap orang hendaknya mau mendengarkan ajaran-Ku, kemudian menghayati dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari”

6. Wujud dan Kehadiran Buddha
Buddha tidak hanya dapat diketahui dengan hanya melihat wujud dan sifat-Nya semata-mata, karena wujud dan sifat luar tersebut bukanlah Buddha yang sejati. Jalan yang benar untuk mengetahui Buddha adalah dengan jalan mencapai Pencerahan Sempurna. Buddha sejati tidak dapat dilihat oleh mata manusia biasa, sehingga Sifat Agung seorang Buddha tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Namun Buddha dapat mewujudkan diri-Nya dalam segala bentuk dengan sifat yang serba luhur. Apabila seseorang dapat melihat jelas wujud-Nya atau mengerti Sifat Agung Buddha, namun tidak tertarik kepada wujud-Nya atau sifatNya, dialah yang sesungguhnya yang telah mempunyai kebijaksanaan untuk melihat dan mengetahui Buddha dengan benar.

Sumber : www.wikipedia.org/wiki/Siddharta_Gautama